PARA AHLI TEORI KEPERAWATAN

By: rifkifauzan

Sep 29 2011

Kategori: Uncategorized

Tinggalkan komentar

PHYLOSOFICAL THEORY
Hildegard E. Peplau
MODEL KEPERAWATAN HUBUNGAN INTERPERSONAL
A. Pandangan Teoritis
1. Teori ini menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri sendiri & orang lain dengan menggunakan dasar huungan antar manusia (HAM
2. Menurut Peplau, Keperawatan adalah proses interpersonal karena melibatkan interaksi antara dua atau lebih individu dengan tujuan bersama.

B. Fase-fase Hubungan Interpersonal :
1. Fase Orientasi ; Perawat dan pasien melakukan kontrak awal untuk menjalin trust, terjadi proses pengumpulan data
2. Fase Identifikasi ; Perawat sebagai fasilitator untuk memfasilitasi expresi perasaan pasien, melaksanakan asuhan keperawatan
3. Fase Eksplorasi ; Perawat telah membantu pasien dalam memberikan gambaran kondisi pasien
4. Fase Resolusi ; Perawat berusaha secara bertahap untuk membebaskan pasien dari ketergantungan terhadap nakes & menggunakan kemampuan yang dimilikinya
C. Asumsi
Asumsi utama atau asumsi dasar dalam pengembangan model konsep dan teori hubungan interpersonal Oleh Peplau dibedakan menjadi asumsi eksplisit dan implisit.
1. Asumsi ekplisit memberi pandangan bahwa
 Perawat akan membuat pasien belajar ketika ia menerima penanganan perawatan,
 Menjalankan fungsi keperawatan dan pendidikan keperawatan dengan membantu perkembangan pasien ke arah kedewasaan
 Keperawatan menggunakan prinsip-prinsip dan metode-metode yang membimbing proses ke resolusi dari masalah interpersonal.
2. Asumsi implisit
Mempertegas profesi keperawatan memiliki tanggung jawab legal dalam penggunaan keperawatan secara efektif dan segala konsekuensinya kepada pasien.

D. Komponen Dasar
Dalam kaitannya dengan perpektif paradigma keperawatan, Peplau juga menguraikan secara terperinci berdasarkan 4 komponen dasar :
1. Manusia
Individu dipandang sebagai suatu organisme yang hidup dalam equilibrium yang tidak stabil yang berjuang dengan caranya sendiri untuk megurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Tiap individu merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal
2. Lingkungan
Merupakan kekuatan yang berada di luar organisme dimana Budaya, adat istiadat dan kebiasaan serta keyakinan merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi individu
3. Kesehatan
Suatu perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang berkesinambungan ke arah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif
4. Keperawatan
Suatu proses interpersonal yang bermakna, bersifat therapeutic.

E. Peran Perwat
Peplau secara terperinci menguraikan beberapa peran perawat :
1. Stranger ; menerima pasien secara baik-baik untuk dapat beradaptasi dengan situasi kehidupan yang berbeda, sehingga tercipta hubungan saling percaya,
2. Teacher ; sebagai guru dalam memberi pengetahuan sesuai kebutuhan,
3. Resource Person ; Sebagai narasumber atau pemberi informasi yang spesifik dalam memahami masalah atau situasi yang baru,
4. Counselors ; Membantu individu untuk memahami dan mengintegrasikan makna kehidupan saat ini sambil memberikan bimbingan dan dorongan untuk melakukan perubahan,
5. Surrogate; bertindak sebagai advokasi, yaitu atas nama pasien untuk membantu memperjelas domain saling ketergantungan dan kemandirian
6. Leader ; memimpin pertemuan dengan cara yang saling memuaskan

PHYLOSOFICAL THEORY
FLORENCE NAIGHTINGALE
MODEL NURSING

A. Pandangan Teoritis
1. Filosofi Florence Nightingale sangat dipengaruhi oleh pandangan tentang interaksi pasien dan lingkungannya yaitu lingkungan fisik, lingkungan psikologis dan lingkungan sosial.
2. Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran.
3. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuat
4. Model dan konsep ini memberikan inspirasi dalam perkembangan praktik keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat dalam tindakan keperawatan hanya memberikan kebersihan lingkungan kurang benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengaruhi proses perawatan pada pasien, sehingga perlu diperhatikan.
5. Teori Nightingale memandang Pasien dalam kontek lingkungan keseluruhan : Lingkungan fisik, Psikologis, dan Sosial.
6. Perawat adalah orang yang membantu proses penyembuhan pasien, dimana perawta lebih dituntut harus bisa membuat lingkungan fisik, psikologis, dan sosial pasien selalu nyaman dengan lingkungan yang bersih.
7. Sebagai contoh : berdasarkan teori ada beberapa hal yang pelu di lakukan perawat pada saat memberikan nutrisi kepada pasien adalah :
a. Jelaskan pentingnya nutrisi yang baik
b. Posisikan pasien merasa nyaman saat makan
c. Buat lingkungan sekitar nyaman
B. Fenomena Keperawatan
1. Florence Nigtingale yang mengamati fenomena bahwa pasien yang dirawat dengan keadaan lingkungan yang bersih ternyata lebih cepat sembuh.
2. Karena masalah munculnya dari dunia empirik, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan objek dalam dunia empirik.
3. Dalam menghadapi masalah perawat memunculkan reaksi yang berbeda-beda sesuai dengan cara berpikirnya.
4. Ilmu dimulai dengan fakta dan kemudian akan diakhiri dengan penemuan fakta pula. Fakta akan menghasilkan suatu teori yang menjelaskan tentang gejala yang terdapat dalam dunia nyata dan memberikan prediksi terhadap permasalahan tersebut.
5. Teori keperawatan merupakan abstraksi intelektual yang merupakan gabungan antara pendekatan rasional dengan pengalaman empirik perawat dalam praktik keperawatan. Dalam hal ini teori merupakan suatu penjelasan yang bersifat rasional yang sesuai dengan objek yang dijelaskan.

C. Kaji dan analisis fenomena
Analisis masalah mencakup langlah-langkah berikut :
1. Langkah pertama dalam analisa suatu fenomena adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang kemunkinan menjadi pencetus terjadinya suatu fenomena tersebut.
2. Rumusan ini mengandung pertanyaan mengenai objek empiris dan faktor-faktor yang terkait di dalamnya. Rumusan masalah didapat melalui pengamatan terhadap objek empiris yang menjadi fokus utamanya

D. Solusi
1. Mempelajari dan menentukan masalah prioritasnya
2. Menyusun alternatif penyelesaian
3. Menentukan tindakan yang mempunyai kemungkinan paling besar akan berhasil dengan akibat yang paling menguntungkan
4. Bertindak (modifikasi lingkungan) ciptakan lingkungan yang tenang, aman dan nyaman
5. Menilai / evaluasi

PHYLOSOPHYCAL THEORY
JEAN WATSON
Philosophy and Science of Caring

A. filosofis keperawatan
1. Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkan pada asumsi bahwa human science and human care merupakan domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetika, humanities dan kiat/art (Watson,1985).
2. Secara umum dapat didefinisikan sebagai model konseptual atau kerangka kerja yang menyediakan kerangka acuan bagi perawat untuk membimbing pemikiran mereka, pengamatan, interpretasi dan praktek perawat (seadhouse, 2000) www. Lotsofessays.com
B. salah satu teori filosofis keperawatan
1. Berfokus pada harga diri individu (menghargai kelebihan dan kekurangan klien)
2. Manusia adalah unik (memiliki respon yang berbeda-beda terhadap kondisi sakit)
3. Memandang manusia sebagai aspek yang utuh
4. Memandang klien sebagai subjek dan bukan sebagai objek
C. Fenomena keperawatan yang ada di tempat kerja
• Tindakan pemasangan infus kepada pasien
D. Analisis fenomena
1. Berfokus pada harga diri individu; meminta persetujuan klien
2. Memandang manusia sebagai individu yang unik; respon klien berbeda-beda terhadap tindakan infus
3. Pemberian pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu pengetahuan
4. Manusia dipandang sebagai sosok yang utuh; dalam tindakan pemberian infus berdasarkan kebutuhan klien, menunjukkan rasa empati dan tujuan tindakan dan melibatkan keluarganya dan mempersilahkan klien untuk berdoa’
 Manusia dipandang sebagai sosok yang utuh; dalam tindakan pemberian infus berdasarkan kebutuhan klien, menunjukkan rasa empati dan tujuan tindakan dan melibatkan keluarganya dan mempersilahkan klien untuk berdoa’

E. solusi terkait fenomena
Membuat standar operasional prosedur:
1. Mengkaji kebutuhan klien akan kebutuhan tindakan infus
2. Menjelaskan pada klien tentang tindakan pemasangan infus
3. Memberi kesempatan pada klien untuk bertanya atau kalarifikasi
4. Meminta persetujuan klien (inform consent)
5. Menjelaskan kepada keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan serta melibatkan keluarga saat tindakan dilakukan
6. Menjaga privasi klien
7. Sebelum tindakan klien dipersilhkan untuk bedoa’
8. dokumentasi
F. Kesimpulan
Falsafah keperawatan menurt jean watsen adalah human care is the heart of nursing :
Aplikasi caring menurut weatson:
1. Berfokus pada harga diri individu
2. Melihat manusia adalah unik
3. Memandang manusia sebagai makhluk yang utuh
4. Pemberian pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu pengetahuan
5. Memandang klien sebagai subjek

TEORI FILOSOFI KEPERAWATAN
PATRICIA BENNER
FROM NOVICE TO EXPER
“EXELLENCE AND POWER IN CLINICAL NURSING PRACTICE”
A. TINJAUAN KONSEP
a. Teori filosofis keperawatan
Teori merupakan kumpulan konsep, defenisi dan usulan yang memproyeksikan sebagai pandangan sistematis atas penomena dengan merancang hubungan-hubungan khusus diantara konsep- konsep untuk keperluan penggambaran, penjelasan, perkiraan atau pengendalian fenomena.
Filosofis keperawatan merupakan keyakinan yang berasal dari nilai, etik, dan moral yang terdapat dalam pemahaman seorang perawat serta yang mendasari sifat, perilaku, dan tindakan keperawatan dalam memberikan layanan keperawatannya kepada mereka yang membutuhkan
Jadi teori filosofi keperawatan merupakan konsep keyakinan yang berasal dari nilai , etik, dan moral yang mendasari sifat, perilaku dan tindakan keperawatan.
b. Contoh teori filosofis keperawatan
Teori “From Novice To Expert” yang dikembangkan oleh Patricia Benner diadaptasi dari “Model Dreyfus” yang dikemukakan oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus. Teori From Novice to Expert menjelaskan 5 tingkat/tahap akuisisi peran dan perkembangan profesi meliputi: (1) Novice, (2) Advance Beginner, (3) competent, (4) proficient, dan (5) expert.
B. Penjelasan dari ke lima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut
1. Novice
Tingkat Novice pada akuisisi peran pada Dreyfus Model, adalah seseorang tanpa latar belakang pengalaman pada situasinya. Perintah yang jelas dan atribut yang obyektif harus diberikan untuk memandu penampilannya. Di sini sulit untuk melihat situasi yang relevan dan irrelevan. Secara umum level ini diaplikasikan untuk mahasiswa keperawatan, tetapi Benner bisa mengklasifikasikan perawat pada level yang lebih tinggi ke novice jika ditempatkan pada area atau situasi yang tidak familiar dengannya.

2. Advance Beginner
Advance Beginner dalam Model Dreyfus adalah ketika seseorang menunjukkan penampilan mengatasi masalah yang dapat diterima pada situasi nyata. Advance beginner mempunyai pengalaman yang cukup untuk memegang suatu situasi. Kecuali atribut dan ciri-ciri, aspek tidak dapat dilihat secara lengkap karena membutuhkan pengalaman yang didasarkan pada pengakuan dalam konteks situasi.
Fungsi perawat pada situasi ini dipandu dengan aturan dan orientasi pada penyelesaian tugas. Mereka akan kesulitan memegang pasien tertentu pada situasi yang memerlukan perspektif lebih luas.
Situasi klinis ditunjukkan oleh perawat pada level advance beginner sebagai ujian terhadap kemampuannya dan permintaan terhadap situasi pada pasien yang membutuhkan dan responnya. Advance beginner mempunyai responsibilitas yang lebih besar untuk melakukan manajemen asuhan pada pasien, sebelumnya mereka mempunyai lebih banyak pengalaman. Benner menempatkan perawat yang baru lulus pada tahap ini.
3. Competent
Menyelesaikan pembelajaran dari situasi praktik aktual dengan mengikuti kegiatan yang lain, advance beginner akan menjadi competent. Tahap competent dari model Dreyfus ditandai dengan kemampuan mempertimbangkan dan membuat perencanaan yang diperlkan untuk suatu situasi dan sudah dapat dilepaskan.
Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen waktu adalah penampilan pada tahap competent. Perawat competent dapat menunjukkan reponsibilitas yang lebih pada respon pasien, lebih realistik dan dapat menampilkan kemampuan kritis pada dirinya.
Tingkat competent adalah tingkatan yang penting dalam pembelajaran klinis, karena pengajar harus mengembangkan pola terhadap elemen atau situasi yang memerlukan perhatian yang dapat diabaikan. Competent harus mengetahui alasan dalam pembuatan perencanaan dan prosedur pada situasi klinis. Untuk dapat menjadi proficient, competent harus diizinkan untuk memandu respon terhadap situasi.
Point pembelajaran yang penting dari belajar mengajar aktif pada tingkatan competent adalah untuk melatih perawat membuat transisi dari competent ke proficient.
4. Proficient
Perawat pada tahap ini menunjukkan kemampuan baru untuk melihat perubahan yang relevan pada situasi, meliputi pengakuan dan mengimplementasikan respon keterampilan dari situasi yang dikembangkan. Mereka akan mendemonstrasikan peningkatan percaya diri pada pengetahuan dan keterampilannya. Pada tingkatan ini mereka banyak terlibat dengan keluarga dan pasien.

5. Expert
Benner menjelaskan pada tingkatan ini perawat expert mempunyai pegangan intuitiv dari situasi yang terjadi sehingga mampu mengidentifikasi area dari masalah tanpa kehilangan pertimbangan waktu untuk membuat diagnosa alternatif dan penyelesaian.
Perubahan kualitatif pada pada expert adalah “mengetahui pasien” yang berarti mengetahui tipe pola respon dan mengetahui pasien sebagai manusia. Aspek kunci pada perawat expert adalah:
1. Menunjukkan pegangan klins dan sumber praktis
2. Mewujudkan proses know-how
3. Melihat gambaran yang luas
4. Melihat yang tidak diharapkan

C. Solusinya
Dalam tatanan pelayanan hendaknya dibuat pembagian tugas yang jelas untuk setiap tingkat/ jenjang dari novice – expertVsesuai dengan kemampuan dan wewenang

SKENARIO
PATRICIA BENNER : FROM NOVICE TO EXPERT : EXCELLENCE AND POWER IN CLINICAL NURSING PRACTICE
Tn A. umur 50 tahun dirawat di ruang CVCU RSWS , dengan diagnosa CHF NYHA IV Keluhan pada saat dikaji, pasien sesak, batuk, dan sangat lemas serta susah BAB Dari pemeriksaan fisik didapat TD : 180/100 mmHg, Suhu : 36’70C, RR : 36 x/mnt, Nadi : 120x/mnt, Odem pada kaki. Hasil pemeriksaan penunjang didapatkan : Albumin 2,1 mg/dl, dan hasil EKG ditemukan Q Patologis dan OMI.
BABAK I (Novice)
(Setting)
(scene1)
Tn A, tampak berbaring posisi semi fowler, terpasang 02 via kanula nasal 4 l/m. Pasien nampak gelisah.
Narrator :
Situasi pada babak ini menggambarkan bagaimana seorang perawat dalam level NOVICE bekerja. Ida adalah seseorang tanpa latar belakang pengalaman pada situasinya, dalam hal ini diwakili dalam peran sebagai mahasiswa keperawatan yang sedang praktik. Perintah yang jelas dan atribut yang obyektif harus diberikan untuk memandu penampilannya. Clinical Instruktur (CI) adalah orang yang berperan dalam meberikan petunjuk dan perintah tersebut.

(scene2)
Mahasiswa perawat dengan pembimbing klinik (CI) memasuki ruang pasien, CI memberikan petunjuk cara perawatan pasien.

CI Selamat pagi Tn A, apa yang bapak rasakan hari ini ? bagaimana tidurnya semalam pak?
Tn A Sy tdk bisa tdr sus, karna sesak.
CI Ida (mahasiswa perawat) coba kamu ukur tanda – tanda vital nya Tn A dan takar urinnya.
Ida Baik Bu. (kemudia ida mengukur tanda vital Tn A, mengamati urin yang ditampung sejak 3 jam sebelumnya. Hasil pengukuran TD 180/100 mmHg, urin output 40 ml dalam waktu 3 jam)

BABAK II (Beginner & Competent)
(scene 3)
(Setting)
Kamar Tn A.
(Narrator) :
Babak ini menggambarkan bagaimana perawat dalam level ADVANCE BEGINNER, dalam hal ini diperankan Ns Beginner. menunjukkan penampilan mengatasi masalah yang dapat diterima pada situasi nyata. Benner menempatkan perawat yang baru lulus dalam level ini…. Peristiwa ini terjadi pada hari berikutnya…. Tn A sedang tiduran, tetapi terlihat lebih lesu dari biasanya, dan tidur dengan memejamkan mata. Ns Beginner sedang memeriksa catatan medis laporan hari sebelumnya
(Scene 3)
Ns Beginer membaca catatan perkembangan Tn A dengan kondisi TD meningkat menjadi 190/100 mmHg, Tn A mengeluh sangat pusing dan mata berkunang-kunang.

Ns Beginer (kening berkerut, tampak berfikir) Kok perkembangan Tn A seperti ini ? TD semakin meningkat (190/100 mmHg). Coba Saya cek dulu. (kemudian Ns. Beginer melakukan pengecekan, dan ternyata benar. Ns. Beginer melanjutkan melakukan pemeriksaan fisik dan mendapatkan hasil oedem (+), urin output 30 ml dalam 3 jam dan berwarna sangat pekat.
Ns. Beginer (melaporkan kepada perawat competent). Ns. Compi saya lihat kondisi Tn A semakin memburuk, TD semakin tinggi, urine output hanya 30 ml dalam 3 jam, dan mengeluh kepala pusing serta mata berkunang-kunang. Saya pikir Tn A perlu penanganan lebih lanjut lagi. Menurut saya Tn A perlu dilakukan pemeriksaan ulang laboratorium protein urine, observasi secara ketat TD, urine output, dan keadaan umum Tn A karena berdasarkan teori, nanti berakibat buruk.
Ns. Competence (mendengarkan laporan Ns Beginner dengan mengangguk-angguk, kemudian meminta catatan medis yang dipegang Ns Beginner.)
Kamu betul Ns Gin. Mari kita cek bersama-sama… (Ns Competent dan Ns Beginner bersama-sama ke ruangan Tn A.
Ns. Competence Selamat pagi Tn A. Rapi sekali hari ini.
Tn A Selamat Pagi Suster (duduk di tepi tempat tidur. Kemudian memejamkan matanya… sebentar
Ns. Competence (mengamati tingkah laku Tn A) bagaimana perasannya pagi ini pak? sepertinya ada yang mengganggu?
Tn A (mengambil napas dalam, masih sambil memicingkam mata seperti orang silau) Ini, kepala pusing terus. Kaki ini rasanya tambah besar saja (sambil menunjuk kaki).
Ns Competence He-eh… Baik Tn A kita periksa dulu ya. (sambil mengambil tensimeter dan stetoskop. Ns. Beginner membantu memasangkan mansetnya. Sementara Ns Competence melakukan pemeriksaan fisik pada kepala dan selanjutnya melakukan pemeriksaan tekanan darah. Setelah melakukan pemeriksaan tekanan darah, Ns Competence mengecek kantung urin yang ada. Setiap hal yang berkaitan dengan peningkatan tekanan darah di tanyakan pada Tn A dengan penuh perhatian)

(Narrator)
Aktivitas yang dilakukan Ns Competent menunjukkan penguasaanya pada kasus yang sedang dihadapi. Tahap competent dari model Dreyfus ditandai dengan kemampuan mempertimbangkan dan membuat perencanaan yang diperlukan untuk suatu situasi dan sudah dapat dilepaskan. Level ADVANCE BEGINNER akan menjadi COMPETENT dengan menyelesaikan pembelajaran dari situasi praktik aktual dengan mengikuti kegiatan yang lain.
Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen waktu adalah penampilan pada tahap competent. Perawat competent dapat menunjukkan reponsibilitas yang lebih pada respon pasien, lebih realistik dan dapat menampilkan kemampuan kritis pada dirinya.
Situasi berikut ini menggambarkan bahwa Ns Competence berkonsultasi dengan Ns Proficient sebagai penanggung jawab utama perawatan pasien atau Perawat Primernya.
BABAK III (Competent, Proficience dan Expert)

(Narrator)
Perawat pada level PROFICIENT menunjukkan kemampuan baru untuk melihat perubahan yang relevan pada situasi, meliputi pengakuan dan mengimplementasikan respon keterampilan dari situasi yang dikembangkan. Mereka akan mendemonstrasikan peningkatan percaya diri pada pengetahuan dan keterampilannya. Pada tingkatan ini mereka banyak terlibat dengan keluarga dan pasien.
(Setting)
Nurse Station
(Scene 4)
Ns. Proficient Ns Compi, pemeriksaan urin terakhir Tn A sudah dilakukan?
Ns. Competence 15 menit yang lalu, diperiksa protein urin ulang, tetapi hasilnya belum ada.
Ns. Profocient Coba kita telp petugas lab, tanyakan langsung hasilnya. (hasil pemeriksaan protein urin ). Coba dilihat terapi diuretiknya.
(Lasix 2 x 10 mg).

Kemudian Ns Proficient datang ke ruang rawat Tn A untuk berinteraksi/berdialog dengan Tn A dan keluarganya.

(Scene 5)
(Setting)
Ruang perawatan Tn A
Ns. Proficient Selamat Siang Tn A, ibu, dan keluarga. Apa yang Tn A rasakan sekarang?
Tn A (lemah, lesu). Saya masih pusing suster dan rasanya sakit saya semakin berat. Badan saya bengkak-bengkaknya tidak berkurang Sus?
Ns. Proficient oh begitu ya? Memang kondisi Tn A masih Sangat lemah, karena tekanan darahnya masih tinggi, kemudian dari hasil pemeriksaan albumin masih 2,1, air kencing yang keluar juga masih sedikit ya pak. (kemudian Ns.Proficient menjelaskan tentang proses penyakitnya kepada pasien dan keluarganya). oh iya Tn A, selama ini apakah bapak pernah dirawat dengan gejala yang sama? Bagaimana pola makan dalam keluarga ibu/bapak? Apakah sering/senang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam dan berlemak? Apakah ada anggota keluarga lain yang mempunyai penyakit jantung? bagaimana aktifitas bapak sehari-hari ? Dll (kaji hal-hal yang terkait dengan jantung).

Tn A ya, saya pernah masuk RS sekitar 2 tahun yang lalu dengan keluhan yang sama dgn sekarang. Saya suka makan coto, bapak saya meninggal karna penyakit jantung. Saya sangat sibuk dikantor mulai pagi sampai sore dan saya jarang berolahraga.

(Narrator) :
Perawat dengan kemampuan level PROFICIENT memerlukan pembelajaran terus menerus dengan berdiskusi dengan koleganya baik yang setingkat maupun konsultasi dengan level EXPERT.

Scene berikut menggambarkan bagaimana proses belajar seumur hidup itu berjalan. Perawat level PROFICIENT berdiskusi dengan perawat EXPERT. Perawat Expert dalam hal ini dapat berperan sebagai penyelia maupun juga sebagai sejawat Perawat Primer atau bisa juga pembimbing seniornya. Perawat EXPERT dalam hal ini memulai proses pembelajaran. Perawat EXPERT dalam cerita ini adalah perawat senior di ruang rawat ini.

(Scene 6
(Setting)
Nurse Station
Ns. proficient berdialog dengan Ns. Expert untuk membicarakan kasus Tn A

Ns. Expert Ns. Profi, bagaimana perkembangan kondisi Tn A?
Ns. Proficient saat ini kondisi Tn A masih lemah sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Saya juga mendapatkan data bahwa Tn A memang memiliki riwayat penyakit jantung dan mempunyai kebiasaan pola makan yang banyak mengandung lemak dan garam. Riwayat keluarga klien dengan penyakit jantung. . Bagaimana menurut Ns. Ert ?
Ns. Expert oh…..begitu. berarti kita perlu menindak lanjuti kasus Tn A ini.

Kemudian Ns. Expert mengunjungi Tn A dan keluarganya di ruang rawat Tn A.
(Scene 7)
Ns. Expert Selamat siang bapak dan ibu keluarga Tn A. Tadi perawat Ns Profi sudah banyak bertanya dan menjelaskan tentang kondisi Tn A. Saya harap Tn A dan keluarga bisa menerima situasi dan kondisi ini dengan terbuka, ikhlas, dan lapang dada. Memang saat ini kondisi Tn A benar seperti apa yang sudah dijelaskan oleh perawat teman kami.

Tn A Iya suster, saya pasrah. Saya hanya berpikir masih ada Allah SWT, yang akan membantu saya.

Istri Tn A Saya dan keluarga juga pasrah menyerahkan semua pada Yang Kuasa.

Ns. Expert Ya..bagus. segala sesuatu memang harus kita serahkan kepada Allah SWT. Kami disini sebagai tim kesehatan/keperawatan hanya berusaha, dan yang menentukan Allah SWT. Selanjutnya kira-kira apa yang akan bpk lakukan terkait dengan masalah yang bpk hadapi sekarang?

Tn A/istri Kami tidak tahu suster, sebaiknya bagaimana ya?

Ns. Expert Baiklah…saya akan menjelaskan hal-hal yang sebaiknya bpk dan keluarga bisa lakukan. Saya akan memberikan gambaran / alternatif yang dapat Tn A dan keluarga lakukan. Saya tidak akan memaksakan pilihan Tn A dan keluarga. Tn A sebaiknya berusaha untuk mulai melakukan pola hidup sehat dengan cara mengurangi makanan berlemak seperti coto kurangi juga makanan yang banyak mengandung garam, olahraga ringan secara teratur misalnya jalan pagi, hindari stres, jangan terlalu memforsir tenaga, istirahat yang cukup dan melakukan kontrol secara teratur serta hal paling penting adalah lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah SWT. Saya kira itu saja Tn A.

Tn A Terimakasih atas sarannya sus…

Ns. Expert dan Ns. Proficient meninggalkan ruangan…..
(narrator)
Demikian tadi cerita yang menggambarkan perkembangan kemampuan perawat dari tingkat NOVICE – EXPERT yang merupakan teori Patricia Benner. Semoga gambaran tersebut mewakili pemahaman yang sesuai.

PHYLOSOFICAL THEORY
Marylin Anne Ray
Theory of Bureaucratic caring
1. Caring
a. sebagai gambaran yang komplek, terhadap kondisi transkultural, berhubungan dengan proses mencakup etika dan spiritual yang berhubungan dengan budi dan perilaku yang baik yang didasarkan atas kasih sayang sebagai respon terhadap suatu kebutuhan, penderitaan dan keadaan lain.
b. Caring dalam suatu budaya/sosial termasuk budaya individu maupun budaya dalam organisasi misalnya rumah sakit.
2. Spiritual
a. Dalam konteks Spiritual dibutuhkan kreativitas dan pilihan dalam konteks komunitas
b. Contoh; seorang perawat tidak berhak memaksakan suatu kepercayaan tetapi hanya menjadi fasilitator terhadap hal-hal yang terkait dengan masalah spiritual etik
3. Pendidikan
• Program pendidikan formal dan informal dengan menggunakan media audiovisual sebagai sumber informasi dan melalui bentuk-bentuk lain pengajaran yang berhubungan dengan caring.
4. Physical
• Faktor fisik sangat berpengaruh terhadap biologis dan mental karena pikiran & tubuh merupakan suatu kesatuan yang saling mempengaruhi.
5. Sosial Budaya
• Contoh sosial budaya adalah etnik, budaya, struktur keluarga, hubungan antara teman dan keluarga, komunikasi, interaksi sosial, dukungan.
6. Legal
a. Berhubungan dengan tanggung jawab dan tanggung gugat yang selalu berhubungan dengan aturan dan prinsip hukum
b. Contoh prosedur tindakan, inform consent, privasi dan hal-hal yang terkait dengan keadaan malpraktek yang menjadi tanggung gugat terhadap klien, keluarga dan tenaga profesional
7. Teknologi
• Dalam perawatan menggunakan teknologi modern seperti penggunaan mesin untuk diagnostik test, terapi dan penggunaan komputer dalam pendokumentasian
8. Ekonomi
• Caring berhubungan dengan faktor keuangan, sistem asuransi, sebagai penunjang.

9. Politik.
• Sebagai kekuatan yang mempengaruhi perawat dalam pengambilan keputusan dan bagaimana perawat melakukan pelayanan kesehatan.

Kasus
Seorang pasien masuk rumah sakit dengan kondisi emergency tetapi disisi lain pasien mengalami kesulitan ekonomi, dimana pasien tidak mampu membayar administrasi rumah sakit sedangkan pasien ini butuh pelayanan cepat sementara perawat yang bertugas menolak untuk melakukan tindakan karena menunggu administrasi selesai
1. Caring
• Memberikan perhatian kepada pasien berdasarkan kebutuhan berdasarkan kasih sayang, tulus dan adil serta bertanggung jawab
2. Spiritual
• Secara etis perawat seharusnya memberikan dukungan moral dan mengerjakan kewajibannya
3. Pendidikan
• Sharing informasi tentang sistem pelayanan rumah sakit sebagai bentuk pendidikan kepada pasien
4. Physical
• Perawat harus memberikan pelayanan keperawatan untuk memberikan kepuasan secara psikis
5. Sosial kultur
• menghormati nilai sosial pasien
• menjelaskan dengan sikap terapeutik (ramah
6. Legalitas
• Perawat harus bekerja berdasarkan standar
• Melibatkan tim kesehatan yang lain
7. Teknologi
• Tindakan harus dikerjakan sesuai prosedur melalui pemeriksaan dari sederhana sampai kompleks
8. Ekonomi
• Menyelesaikan pengambilan keputusan terkait pendanaan oleh pasien
9. Politik
• Membuat keputusan harus melibatkan tim kesehatan seperti dokter dan tenaga rekam medik administrasi

Tindakan
1. Caring
• Memberikan perhatian kepada pasien berdasarkan kebutuhan berdasarkan kasih sayang, tulus dan adil serta bertanggung jawab
2. Spiritual
• Secara etis perawat seharusnya memberikan dukungan moral dan mengerjakan kewajibannya
3. Pendidikan
• Sharing informasi tentang sistem pelayanan rumah sakit sebagai bentuk pendidikan kepada pasien
4. Physical
• Perawat harus memberikan pelayanan keperawatan untuk memberikan kepuasan secara psikis
5. Sosial kultur
• menghormati nilai sosial pasien
• menjelaskan dengan sikap terapeutik (ramah dan akrab)
6. Legalitas
• Perawat harus bekerja berdasarkan standar
• Melibatkan tim kesehatan yang lain
7. Teknologi
• Tindakan harus dikerjakan sesuai prosedur melalui pemeriksaan dari sederhana sampai kompleks
8. Ekonomi
• Menyelesaikan pengambilan keputusan terkait pendanaan oleh pasien
9. Plotik
• Membuat keputusan harus melibatkan tim kesehatan seperti dokter dan tenaga rekam medik administrasi

PHYLOSOPHYCAL THEORIES
KATIE ERICKSON
Theory of Caritative Caring.
A. Yang dimaksud dengan teori filosofis keperawatan (Phylosophical Theories)
a. Filosofi adalah pandangan (view point) dari suatu teori yang meliputi asumsi, keyakinan dan nilai dari teori tersebut dan merupakan pegangan bagi setiap orang yang menggunakannya.
b. Teori adalah kumpulan konsep, defenisi dan dalil yang memproyeksikan pandangan yang sistematis terhadap suatu fenomena dengan merancang suatu hubungan yang spesifik antara konsep-konsep dan bertujuan untu menjelaskan, memprediksi atau mengontrol suatu fenomena.
Menurut Chinn & Kramer (1991) teori adalah suatu struktur ide yang kreatif yang sangat teliti untuk memproyeksikan suatu pandangan sistematis dan mempunyai maksud tertentu terhadap suatu fenomena yang bersifat sementara.
c. Filosofi Keperawatan è Keyakinan yang berasal dari nilai, etik, dan moral yang terdapat dalam pemahaman seorang perawat serta yang mendasari sifat, perilaku, dan tindakan keperawatan dalam memberikan layanan keperawatannya kepada mereka yg membutuhkan.
d. Kesimpulan : Teori filosofi Keperawatan è Kumpulan konsep, dalil, ide yg kreatif yg sangat teliti untuk memproyeksikan suatu pandangan sistematis kemudian dijadikan keyakinan yang berasal dari nilai, etik, dan moral yang terdapat dalam pemahaman seorang perawat serta yang mendasari sifat, perilaku, dan tindakan keperawatan dalam memberikan layanan keperawatannya kepada mereka yg membutuhkan.

B. Salah satu yang termasuk dalam teori filosofi keperawatan adalah TEORI KATIE ERICKSON (Caritative Caring)
Konsep dasar dari caritative caring oleh Erikson adalah :
1. Caritas
Mengandung makna; cinta dan kemurahan hati. Caritas merupakan motif dasar dari ilmu caring, artinya bahwa keyakinan, harapan dan cinta dicapai dengan perantaraan caring melalui tindakan pemeliharaan, pelaksanaan (playing), dan pembelajaran
2. Caring Communion
Caring comunion mengandung konteks pengertian dari caring dan menjadi struktur yang menentukan realitas caring. Caring comunion terdiri dari intensitas dan vitalitas; kehangatan, keakraban, ketenangan, ketanggapan, kejujuran dan toleransi. Dalam caring comunion memungkinkan hubungan antara seseorang dengan orang lain dimana individu memiliki perasaan bahwa suatu saat dia bisa saja mengalami keadaan yang sama dengan orang lain. Caring comunion adalah apa yang menyatukan dan mengikat individu/manusia tersebut sehingga membuat caring itu berarti

3. Tindakan caring
Erikson mengatakan bahwa tindakancaring merupakan suatu seni/cara menjadikan sesuatu yang kurang spesial menjadi sangat special
4. Etika Caritatve Caring
Etika caritative caring terdiri dari etika caring itu sendiri yang ditetapkan oleh motif caritas. Etika caring menitik beratkan pada hubungan dasar antara pasien dan perawat, dimana saat perawat menemui pasien memenuhi batasan-batasan etika yang jelas. Sikap yang ditampakkan dilakukan melalui pendekatan- pendekatan yaitu tanpa ada prasangka dan tetap melihat manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Dalam hal ini, kita akan berkorban sesuatu dari diri kita demi orang lain.
5. Martabat
Dalam berinteraksi dengan pasien perlu diperhatikan martabat pasien. Ada dua jenis martabat, yaitu martabat yang mutlak dan martabat yang relatif. Martabat yang relatif dipengaruhi/dapat diperoleh dari budaya.
6. Menerima panggilan/undangan/invitasi
Perawat datang mengunjungi pasien dan memberikan tindakan perawatan atas permintaan atau undangan dari pasien/keluarga sendiri. Dalam hal ini, perawat berusaha memberikan yang terbaik dengan memenuhi kebutuhan dasar pasien.
7. Penderitaan
Penderitaan ada yang dihubungkan dengan kondisi sakit, perawatan, dan kehidupan. Penderitaan yang dihubungkan dengan kondisi sakit dimana pasien mengalami penderitaan karena kondisi sakitnya tersebut. Penderitaan yang dihubungkan dengan perawatan, dimana kadang pasien mengalami penderitaan akibat pada saat diberi tindakan perawatan, kurang dipertimbangkan masalah martabat pasien, kurangnya keramahan petugas, adanya kesalahan tindakan, dan terapi latihan yang menyiksa. Hal tersebut menimbulkan penderitaan dalam kehidupan pasien
8. Penderitaan manusia
Pasien dalam hal ini manusia yang mengalami penderitaan. Keadaan yang digambarkan oleh pasien saat dia mengalami sakit dimana pada saat itu ia memikul penderitaan
9. Rekonsiliasi
Rekonsiliasi merupakan suatu bentuk drama dari penderitaan dimana seseorang yang menderita ingin memastikan penderitaan yang dialaminya dan diberi kesempatan dan mencapai rekonsoliasi/kedamaian

10. Budaya caring
Budaya caring merupakan konsep dimana Erikson menggunakan lingkungan berdasar pada elemen budaya sebagai tradisi, ritual dan nilai-nilai dasar. Budaya yang berbeda memiliki dasar perubahan nilai etos. Bila suatu comunion muncul berdasarkan etos, budaya menjadi lebih menarik. Budaya caring menunjukkan sikap tanggap terhadap manusia, martabat dan kesuciannya dalam membentuk tujuan communion
C. Mengidentifikasi dan memilih fenomena keperawatan
Kasus :
Tn. A berumur 68 tahun, seorang pensiunan guru datang seorang diri ke RS untuk memeriksakan diri dengan keluhan pusing,jantung berdebar-debar,keringat dingin,pandangan berkunang-kunang,dan hasil laboratorium GDS 50 mg/dl. Dari pengkajian diketahui bahwa klien ini sudah menderita DM sejak 4 tahun terakhir. Dalam komunikasi antara klien dan perawat, klien mengatakan bahwa ia merasa hidup sendiri walaupun ia tinggal bersama 2 orang anaknya, tetapi mereka tidak mempedulikan dirinya. Klien mengatakan bahwa anak-anak hanya sibuk dengan urusan masing-masing bahkan untuk berkumpul dengan anaknya sangat jarang terjadi.
Akhirnya klien dirawat di RS, kemudian Perawat meminta nomor keluarga yang dapat dihubungi. Awalnya klien menolak namun dengan pengertian dari perawat akhirnya ia memberikan nomor anggota keluarganya. Perawat kemudian menghubungi keluarga dan menceritakan kondisi Tn. A. Dari komunikasi tersebut ternyata keluarga sangat mencemaskan Tn. A karena ia tidak memberitahukan keluarga ketika akan meninggalkan rumah. Keluarga mengatakan sejak ditinggal istri klien lebih banyak diam dan kadang marah tanpa jelas penyebabnya, sehingga anak tidak memahami kebutuhan klien.
Setelah komunikasi tersebut, keluarga menjenguk klien di RS, namun klien tidak menunjukkan respon yang baik. Ketika ia membutuhkan sesuatu ia tidak ingin dibantu keluarga. Seperti kejadian pagi itu ia ingin makan namun harus disuap karena kelemahan yang dialami ketika keluarga menawarkan bantuan klien tidak menerima ia lebih memilih memanggil perawat. Melihat kondisi tersebut akhirnya perawat mengajak klien berkomunikasi membicarakan masalah tersebut.
Ketika berbincang-bincang dengn klien, klien mengatakan bahwa ia sangat nyaman di RS karena perawat lebih memahami perasaannya di banding keluarganya sendiri, seandainya keluarganya bias bersikap seperti perawat tentu ia sangat bahagia.
Kemudian perawat, dengan hati-hati meminta kepada Tn. A untuk memberikan pendapatnya tentang keluarga Tn. A dan ia bersedia untuk mendengar pendapat perawat. Perawat bahwa sebenarnya keluarga sangat menyayangi klien dan ingin selalu menemani klien namun kesibukan mereka yang tidak bisa ditinggalkan sehingga kadang keluarga tidak ditempat ketika klien membutuhkan. Namun keluarga berjanji akan berusaha mengatur waktu agar mereka dapat bergantian merawat bapak. Perawat juga mengatakan akan membantu keluarga bagaimana cara merawat klien ketika nanti pulang ke rumah sehingga nantinya klien tidak marasa terabaikan. Ketika klien mendengar pendapat perawat, klien tersebut menunduk dan menangis serta mengatakan bahwa memang sebenarnya anak-anaknya sayang kepadanya. Mereka tidak pernah mengeluh, apalagi berkata kasar kepadanya. Mereka sangat ramah dan berusha sabar menghadapi klien yang diakui klien sering membuat anak-anaknya bingung.
Kemudian klien meminta perawat untuk memanggil anaknya dan meminta maaf kepada mereka demikian pula sang anak meminta maaf kepada ayahnya dan berjanji akan selalu menyayangi dan memperhatikan klien.

D. Analisa dari fenomena tersebut berdasarkan teori Katie Erickson:
1. Caritas : klien tidak mendapatkan perhatian dari keluarga dan mengannggap perawat lebih dapat memberikan perhatian kepada klien
2. Caring communion : perawat menyadari pentingnya kehangatan, ketenangan, ketanggapan, kejujuran dan toleransi
3. Tindakan caring : menjadikan klien sebagai orang yang sangat penting diperhatikan
4. Etika caritative caring : melihat klien sebagai seorang yang bermartabat, perawat rela berkorban demi orang lain
5. Martabat : perawat perlu memperhatikan martabat pasien
6. Menerima panggilan : ketika klien membutuhkan perawat, maka perawat segera menemui klien
7. Penderitaan : klien sedang menderita sakit DM yang berdampak pada penurunan kondisi kesehatannya. Keramahan perawat membuat klien dapat merasa lebih nyaman di RS disbanding di rumah bersama keluarga
8. Penderitaan manusia : klien merasa beban yang dirasakan tidak mendapat perhatian dari keluarga sehingga dirinya merasa sendiri.
9. Rekonsiliasi : memberikan kesempatan kpd klien untuk mendapatkan kedamaian. Kedamaian mulai dapat dirasakan klien ketika ia mulai menyadari kasih saying dan perhatian dari keluarga yang selama ini ia rindukan.
10. Budaya caring : ketika sakit, maka berdasarkan budaya, ketika seorang sakit mereka sangat membutuhkan support dari klg. Support keluarga membuat klien bersemangat dan menjalani hidupnya dengan lebih damai, aman dan tentram.

E. Solusi terkait fenomena tersebut
1. Perawat mampu memberikan caring kepada klien berupa kehangatan, ketenangan, ketanggapan, serta keakraban shg membuat caring itu berarti
2. Perawat menunjukkan etika caring yang begitu menghargai klien dan melakukan pendekatan-pendekatan tanpa adanya prasangka-prasangka buruk terhadap klg ataupun klien
3. Ketika terjadi konflik antara klien dan keluarga maka perawat berperan dalam menyatukan klien dan keluarganya
4. Untuk menerapkan caritative caring, maka perawat dituntut mampu melakukan komunikasi terapeutik, membina hubungan saling percaya dan mampu melihat keadaan dan situasi kapan kita dapat memberikan masukan kepada klien agar apa yang kita sampaikan dapat diterima oleh klien.

AHLI TEORI MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN
1. Mira Lestin Levine : The conservation Model (1921-1996)
a. Fokus teory Mira Lestin Levine adalah Konservasi Model
b. Konsep teory Levine terdiri :
Adaptasi (adaptation)
Wholeness
Konservasi (concerpatin)
1) Adaptasi (adaptation)
Adaptasi adalah proses dimana klien memelihara integritas di dalam lingkungan yang nyata baik internal maupun eksternal (Levine, 1966, 1989 dalam Tomey & Alligood, 2006)
Adaptasi adalah konsekuensi dari interaksi antara orang dengan lingkungan. Keberhasilan dalam menghadapi lingkungan tergantung dari adekuatnya adaptasi (Levine, 1990)
Levine (1991) dalam Parker (2001) dan Tomey & Alligood (2006) mengemukakan 3 (tiga) karakteristik dari adaptasi yaitu
a) Historicity
Adaptasi merupakan proses historis, dimana respon didasarkan pada pengalaman masa lalu baik itu dari segi personal maupun genetik.
b) Specifity
Adaptasi juga bersifat spesifik, artinya bahwa pada perilaku individu memiliki pola stimulus respon yang spesifik dan unik dalam aktivitas kehidupan sehari-hari
c) Redundancy
Adaptasi bersifat redundancy yang berarti pilihan akan selamat atau gagal oleh individu untuk memastikan terjadinya adaptasi yang berkelanjutan. Jika suatu sistem tubuh tidak mampu beradaptasi, maka sistem yg lain akan mengambil alih & melengkapi tugasnya.Redundancy dipengaruhi oleh trauma, usia, penyakit atau kondisi lingkungan yang membuat individu tersebut sulit untuk mempertahankan hidup
2) Wholeness
Konsep Wholeness dari Levine didasari dari teori Erikson; different between total and whole (1984,1986) yang menyatakan :
“wholeness emphasizes a sound, organic, progressive, mutuality between diversified fungtion and parts within an intirety, the boundaries of which open and fluen” (P.98)
Dari definisi yang dikemukakan oleh Erikson diatas, Levine menganggap bahwa Wholeness merupakan system terbuka dan menggabungkan bagian-bagian untuk sebuah keutuhan untuk menghadapi perubahan lingkungan.
Wholeness didasarkan pada uraian keseluruhan sebagai satu sistem terbuka yang berarti wholeness menekankan suatu bunyi, organik, dan progresif yang sama antara fungsi-fungsi yang beraneka ragam dan bagian secara keseluruhan, serta batasan-batasan yang bersifat terbuka (Levine dalam Parker,2001).
3) Konservasi (conservation)
Konservasi berarti cara yang kompleks untuk melakukan fungsinya pada saat tantangan berat menghalanginya. Konservasi juga menjelaskan suatu sistem yang kompleks yang mampu melanjutkan fungsi ketika terjadi tantangan yang buruk. Dalam hal ini bahwa individu mampu untuk berkonfrontasi dan beradaptasi demi mempertahankan keunikan mereka. Melalui konservasi ini individu mampu menghadapi tantangan, melakukan adaptasi dan tetap mempertahankan keunikan pribadi. Perhatian utama pada konservasi adalah menjaga keutuhan individu(Levine dalam Parker, 2001 dan Tomey & Alligood, 2006).
Model Konservasi “Levine” berfokus pada individu sebagai makhluk yang holistik, dan bidang utama dari perhatian perawat dalam pemeliharaan individu secara keseluruhan. Polit & Henderson (1995) mendefinisikan ilmu keperawatan sebagai dukungan dan intervensi terapeutik berdasar pada ilmu pengetahuan atau terapeutik (Ruddy, 2007). Model Levine menekankan pada proses interaksi dan intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk peningkatan kemampuan beradaptasi dan mempertahankan keutuhan tersebut. Tindakan keperawatan berdasar pada empat prinsip, yaitu (Levine dalam Ruddy, 2007):
a) Konservasi energi
Merupakan keseimbangan dan perbaikan energi yang dibutuhkan individu untuk melakukan aktivitas. Hal tersebut juga termasuk keseimbangan energi input dan output untuk menghindari kelemahan yang berlebihan. Contohnya adalah proses penyembuhan dan proses penuaan. Intervensi keperawatan dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemenuhan kebutuhan. Contoh lain adalah istirahat yang adekuat, mempertahankan nutrisi yg adekuat & aktivitas.
b) Konservasi Integritas struktural
Penyembuhan adalah proses perbaikan integritas struktur dan fungsi dlm mempertahankan keutuhan diri. Contohnya bila menghadapi individu pasca amputasi, perawat harus membantu individu tersebut untuk menuju tingkat adaptasi baru. Contoh tindakan lain adalah membantu klien dalam latihan ROM, mempertahankan personal hygiene klien.

c) Konservasi Integritas personal
Menyadari pentingnya harga diri dan identitas diri klien serta penghormatan terhadap privasi. Dalam hal ini, perawat dalam melakukan intervensi keperawatan harus menghargai keberadaannya seperti menghargai nilai dan norma yang dianut serta keinginannya, menyapa dengan sopan, meminta izin sebelum melakukan tindakan dan melakukan tahapan terminasi setelah melakukan tindakan dan sebelum meninggalkan klien. Selain itu, perawat juga memahami, menghargai dan melindungi kebutuhan akan jarak (space).
d) Konservasi Integritas sosial
Keterlibatan anggota keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keagamaan atau spiritual dan penggunaan hubungan interpersonal. Individu mendapatkan makna kehidupan melalui komunitas sosial. Perawat membantu menghadirkan anggota keluarga dan menggunakan hubungan interpersonal untuk menjaga integritas sosial.

Model Konsep Keperawatan
Martha Elizabet Roger
Martha E. Roger : Unitary Human Being.

Model Konsep Keperawatan Martha Elizabet Roger
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Martha Elizabeth Roger lahir pada tanggal 12 Mei 1914 di Dallas, Texas. Beliau memulai karir sarjananya ketika beliau masuk di Universitas Tennessee di Knoxville pada tahun 1931. Beliau masuk sekolah keperawatan di RSU Knoxville pada September 1933. Beliau menerima gelar Diploma Keperawatan pada tahun 1936 dan menerima gelar B.S dari George Peabody College di Masville pada tahun 1937. Pada tahun 1945 beliau mandapat gelar MA dalam bidang pengawasan kesehatan masyarakat dari Fakultas Keguruan Universitas Columbia, New York. Beliau menjadi Eksekutif Direktur dari pelayanan keperawatan di Phoenix, AZ. Beliau meninggalkan Arizona pada tahun 1951 dan kembali melanjutkan sekolah di Universitas Johns Hopkins, Baltimre MD dg memperoleh gelar MPH tahun 1952 dan Sc.D tahun 1954. Beliau di tetapkan menjadi Kepala Bagian Keperawatan di New York University pada tahun 1954.
Secara resmi beliau mengundurkan diri sebagai Professor dan Kepala Bagian Keperawatan pada tahun 1975 setelah 21 tahun dalam pelayanan. Pada tahun 1979 beliau pensiun dengan hormat dengan memakai gelar Professornya dan terus aktif mengembangkan dunia keperawatan sampai beliau meninggal pada 13 maret 1994.
Dalam teorinya, Martha Rogers (1970), mempertimbangkan manusia ( kesatuan manusia) sebagai sumber energi yang menyatu dengan alam semesta. Manusia berada dalam interaksi yang terus menerus dengan lingkungan (lutjens,1995). Selain itu, manusia merupakan satu kesatuan utuh memiliki integritas diri dan menunjukkan karakteristik yang lebih dari sekedar gabungan dari beberapa bagian (Rogers 1970).
Manusia yang utuh merupakan ” Empat sumber dimensi energi yang diidentifikasi oleh pola dan manisfestasi karakteristik spesifik yang menunjukkan kesatuan dan yang tidak dapat di tinjau berdasarkan bagian pembentuknya” (Maminer – Toey,1994).

Keempat dimensi yang di gunakan oleh Martha E. Rogers sumber energi, keterbukaan, keteraturan dan pengorganisasian, dan empat dimensionalitas manusia digunakan untuk menentukan prinsip mengenai bagaimana berkembang.
B. Tujuan
Untuk meningkatkan pengetahuan tentang Teori Model Keperawatan menurut Martha E. Rogers serta dapat mengaplikasikannya dalam praktik keperawatan.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Defenisi Keperawatan Menurut Martha E. Rogers.
Keperawatan adalah ilmu humanistic/humanitarian yg menggambarkan dan memperjelas bahwa manusia dalam strategi yang utuh dan dalam perkembangan hipotesis secara umum dengan memperkirakan prinsip – prinsip dasar untuk ilmu pengetahuan praktis. Ilmu keperawatan adalah ilmu kemanusiaan, mempelajari tentang alam dan hubungannya dengan perkembangan manusia.
Rogers mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip – prinsip kreatifitas, seni dan imaginasi. Aktifitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan aktifitas yang berakar pada dasar ilmu pengetahuan abstrak, pemikiran intelektual, dan hati nurani. Rogers menekankan bahwa keperawatan adalah disiplin ilmu yang dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi keterampilan, dan teknologi. Aktivitas keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan pelayanan rehabilitatif senantiasa berdasar pada konsep pemahaman manusia / individu seutuhnya.
B. Asumsi Dasar :
Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan manusia secara langsung.
Berdasarkan pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Roger ada 5 asumsi mengenai manusia, yaitu :
1. Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik, antara satu dan lainnya berbeda di beberapa bagian. Secara signifikan mempunyai sifat-sifat yang khusus jika semuanya jika dilihat secara bagian perbagian ilmu pengetahuan dari suatu subsistem tidak efektif bila seseorang memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia. Manusia akan terlihat saat bagiannya tidak dijumpai.
2. Berasumsi bahwa individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan material satu sama lain. Beberapa individu mendefenisikan lingkungan sebagai faktor eksternal pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari semua hal.
3. Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya seorang individu tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang diharapkan semula.
4. Perilaku pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif.
5. Manusia bercirikan mempunyai kemampuan untuk abstrak, membayangkan, bertutur bahasa dan berfikir, sensasi dan emosi. Dari seluruh bentuk kehidupan didunia hanya manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan luasnya dunia.
Berdasar pada asumsi-asumsi terdapat 4 batasan utama yg ditunjukkan oleh Martha E Roger :
1. Sumber energi.
2. Keterbukaan.
3. Pola-pola perilaku.
4. Ukuran – ukuran 4 dimensi.
Disini terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan pada ini adalah manusia dan lingkungannya. Sebagai sistem hidup dan sumber energi, individu mampu mengambil energi dan informasi dari lingkungan dan menggunakan energi dan informasi untuk lingkungan. Karena pertukaran ini individu adalah sistem terbuka yang mendasari dan membatasi asumsi-asumsi utama Martha E Roger.
Menurut Martha E Roger ilmu tentang keperawatan berhubungan langsung dengan proses kehidupan manusia dan bertujuan untuk menjelaskan dan memperkirakan kealamiahan dan hubungannya dengan perkembangan. Untuk memperkuat teorinya Martha E. Rogers mengkombinasikan konsep manusia seutuhnya dengan prinsip homeodinamik yang kemudian di kemukakannya.
C. Prinsip-prinsip Hemodinamika
Teori menyatakan bahwa dalam keperawatan dipergunakan prinsip hemodinamika untuk melayani manusia, yaitu :
1. Integritas (Integrality), adalah proses berhubungan yang menguntungkan antar manusia dan lingkungannya secara berkesinambungan.
2. Resonansi (Resonancy), Prinsip ini membicarakan tentang alam dan perubahan yang terjadi antara manusia dan lingkungan. Resonansi dapat dijelaskan sebagai suatu pola-pola gelombang yang ditunjukkan dengan perubahan-perubahan dari frekuensi terendah ke frekuensi yang lebih tinggi pada gelombang perubahan.
3. Helicy, Prinsip yang menyatakan bahwa keadaan alami dan hubungan manusia dan lingkungan adalah berkesinambungan, inovatif, ditunjukkan dengan peningkatan jenis
pola-pola perilaku manusia dan lingkungan yang menimbulkan kesinambungan, menguntungkan, merupakan interaksi yang simultan antara manusia dan lingkungan bukan menyatakan ritmitasi.
Perbandingan dengan Teori Lain :
Prinsip hemodinamika lebih mudah daripada teori sistem pada umumnya. Prinsip hemodinamika yaitu helicy dibandingkan pada prinsip equifinalli dan negetropi. Equifinally merupakan sistem terbuka yang mungkin dicapai tergantung pada keadaan dan ditentukan oleh suatu pengukuran yang mempunyai tujuan.
D. Teori dan Empat Konsep Dasar Roger
Martha E. Roger mengemukakan empat konsep besar. Beliau menghadirkan lima asumsi tentang manusia. Tiap orang dikatakan sebagai suatu yang individu utuh. Manusia dan lingkungan selalu saling bertukar energi. Proses yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak dapat diubah dan berhubungan satu sama lain pada dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut merupakan pola kehidupan. Pada akhirnya seseorang mampu berbicara, berfikir, merasakan, emosi, membayangkan dan memisahkan. Manusia mempunyai empat dimensi, medan energi negentropik dapat diketahui dari kebiasaan dan ditunjukkan dengan ciri-ciri dan tingkah laku yang berbeda satu sama lain dan tidak dapat diduga dengan ilmu pengetahuan yaitu lingkungan, keperawatan dan kesehatan.

Model Konsep Keperawatan
Dorothea E. Orem
Self-care dificit Theory of Nursing.
A. Latar Belakang
Dorothea Elizabeth Orem lahir pada tahun 1914 di Baltimore, Maryland. Orem adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Dorothea E. Orem memulai karir keperawatannya sejak terdaftar sebagai siswa di Providence di Washington DC. Lulus Sarjana Muda tahun 1930. Lulus Master tahun 1939 pendidikan keperawatan. Tahun 1945 bekerja di Universitas Katolik di Amerika sebagai asisten direktur.
Selama perjalanan kariernya ia telah bekerja sebagai staf perawat, perawat tugas pribadi, pendidik, administrasi keperawatan dan sebagai konsultan (1970). Tahun 1958-1959 sebagai konsultan di Departemen kesehatan pada bagian pendidikan kesejahteraan dan berpartisipasi pada proyek pelatihan keperawatan. Tahun 1959 konsep perawatan Orem dipublikasikan pertama kali. Tahun 1965 Orem bergabung dengan Universitas Katolik di Amerika membentuk model teori keperawatan komunitas. Tahun 1968 membentuk kelompok konferensi perkembangan keperawatan, yang menghasilkan kerja sama tentang perawatan dan disiplin keperawatan. Tahun 1976 mendapat gelar Doktor Honoris Causa. Tahun 1980 mendapat gelar penghargaan dari alumni Universitas Katolik Amerika tentang teori keperawatan. Selanjutnya Orem mengembangkan konsep keperawatan tentang perawatan diri sendiri dan dipulikasikan dalam keperawatan (Concept of Pratice tahun 1971). Tahun 1980 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang edisi pertama diperluas pada keluarga, kelompok dan masyarakat. Tahun 1985 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang tiga teori, yaitu : Theory self care, theory self care deficit, theory system keperawatan.
Dorothea E. Orem meninggal pada 22 Juni 2007 di kediamannya di Savannah, USA. Orem meninggal pada umur 93 tahun. Dunia keperawatan telah kehilangan seorang ahli dan dianggap sebagai orang terpenting serta memiliki wawasan yang sangat luas di bidang keperawatan. Dalam bidang keperawatan dapat dikatakan bahwa ahli Keperawatan dari Amerika, Dorothea E Orem, termasuk salah seorang yang terpenting diantara orang yang mengembangkan pandangan dalam bidang Keperawatan.
Dorothea E. Orem. Orem mengembangkan model konsep keperawatan ini pada awal tahun 1971 dimana dia mempublikasikannya dengan judul “Nursing Conceps of Practice Self Care”. Model ini pada awalnya berfokus pada individu kemudian edisi kedua tahun 1980 dikembangkan pada multiperson’s units (keluarga, kelompok dan komunitas) dan pada edisi ketiga sebagai lanjutan dari tiga hubungan konstruksi teori yang meliputi : teori self care, teori self care deficit dan teori nursing system. Keperawatan mandiri (self care) menurut Orem’s adalah : “Suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit” (Orem’s 1980). Pada dasarnya diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri, kecuali bila tidak mampu.
Dorothea orem (1971) mengembangkan definisi keperawatan yang menekankan pada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri. Orem menggambarkan filosofi tentang kaperawatan dengan cara seperti berikut : Keperawatan memiliki perhatian tertentu pada kebutuhan manusia terhadap tindakan perawatan dirinya sendiri dan kondisi serta penatalaksanaannya secara terus menerus dalam upaya mempertahankan kehidupan dan kesehatan, penyembuhan dari penyakit, atau cidera, dan mengatasi hendaya yang ditimbulkannya.
Perawatan diri sendiri dibutuhkan oleh setiap manusia, baik laki-laki perempuan dan anak-anak. Ketika perawatan diri tidak dapat dipertahankan akan terjadi kesakitan atau kematian. Keperawatan berupaya mengatur dan mempertahankan kebutuhan keperawatan diri secara terus menerus bagi mereka yang secara total tidak mampu melakukannya. Dalam situasi lain, perawat membantu klien untuk mempertahankan perawatan diri dengan melakukannya sebagian, tetapi tidak seluruh prosedur, melainkan pengawasan pada orang yang membantu klien dengan memberikan instuksi dan pengarahamn secara individual sehingga secara bertahap klien mampu melakukannya sendiri.
Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya dalam pandangan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar, Orem membagi dalam konsep kebutuhan dasar yang terdiri dari:
1. Air (udara): pemeliharaan dalam pengambian udara.
2. Water (air): pemeliharaan pengambilan air
3. Food (makanan): pemeliharaan dalam mengkonsumsi makanan
4. Elimination (eliminasi): pemeliharaan kebutuhan proses eliminasi
5. Rest and Activity (Istirahat dan kegiatan): keseimbangan antara istirahat dan aktivitas.
6. Solitude and Social Interaction (kesendirian dan interaksi sosial) : pemeliharaan dalam keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial
7. Hazard Prevention (pencegahan risiko): kebutuhan akan pencegahan risiko pada kehidupan manusia dalam keadaan sehat .
8. Promotion of Normality

B. KEYAKINAN DAN NILAI – NILAI
Keyakinan Orem tentang empat konsep utama keperawatan adalah :
1. Individu/Klien
Individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus mempertahankan self care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit atau trauma atu koping dan efeknya.
2. Sehat
Kemampuan individu atau kelompoki memenuhi tuntutatn self care yang berperan untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas structural fungsi dan perkembangan.
3. Lingkungan
Tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan keperluan self care dan perawat termasuk didalamnya tetapi tidak spesifik.
4. Keperawatan
Pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang dilakukan untuk membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam mempertahankan self care yang mencakup, integritas struktural, fungsi dan perkembangan
Berdasarkan keyakinan empat konsep utama diatas, Orem’s mengembangkan konsep modelnya hingga dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.

C. KONSEP UTAMA
1. Universal Self-Care Requisites
Tujuan universally required adalah untuk mencapai perawatan diri atau kebebasan merawat diri dimana harus memiliki kemampuan untuk mengenal, memvalidasi dan proses dalam memvalidasi mengenai anatomi dan fisiologi manusia yang berintegrasi dalam lingkaran kehidupan. Dibawah ini terdapat 8 teori self care secara umum yaitu :
a. Pemeliharaan kecukupan pemasukan udara
b. Pemeliharaan kecukupan pemasukan makanan
c. Pemeliharaan kecukupan pemasukan cairan
d. Mempertahankankan hubungan perawatan proses eliminasi dan eksresi
e. Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
f. Pemeliharaan keseimbangan antara solitude dan interaksi social
g. Pencegahan resiko-resiko untuk hidup, fungsi usia dan kesehatan manusia.
h. Peningkatan promosi fungsi tubuh dan pengimbangan manusia dalam kelompok social sesuai dengan potensinya
2. Developmental self-care requisites
Berhubungan dengan tingkat perkembangn individu dan lingkungan dimana tempat mereka tinggal yang berkaitan dengan perubahan hidup seseorang atau tingkat siklus kehidupan. Tiga hal yang berhubungan dengan tingkat perkembangan perawatan diri adalah:
a. Situasi yang mendukung perkembangan perawatan diri
b. Terlibat dalam pengembangan diri
c. Mencegah atau mengatasi dampak dari situasi individu dan situasi kehidupan yang mungkin mempengaruhi perkembangan manusia. (Orem, 1980,p.231)
3. Health deviation self-care requisites
Istilah perawatan diri ditujukan kepada orang-orang yang sakit atau trauma, yang mengalami gangguan patologi, termasuk ketidakmampuan dan penyandang cacat juga yang berada sedang dirawat dan menjalani terapi. Adanya gangguan kesehatan terjadi sepanjang waktu sehingga mempengaruhi pengalaman mereka dalam menghadapi kondisi sakit sepanjang hidupnya.
Penyakit atau trauma tidak hanya pada struktur tubuh, fisiologi dan psikologi tetapi juga konsep diri seutuhnya. Ketika konsep diri manusia mengalami gangguan (termasuk retardasi mental atau autisme), perkembangan individu akan memberikan dampak baik permanen maupun sementara. Dinegara-negara yang warganya banyak mengalami gangguan kesehatan, self-care (perawatan diri) digunakan sebagai alat dalam pengobatan dan terapi kesehatan.
Perawatan diri (self-care) adalah komponen system tindakan perawatan diri individu yang merupakan langkah-langkah dalam perawatan ketika terjadi gangguan kesehatan. Kompleksitas dari self-care atau system dependent-care (ketergantungan perawatan) adalah meningkatnya jumlah penyakit yang terjadi dalam waktu-waktu tertentu.
4. Therapeutic self-care demand
Terapi pemenuhan kebutuhan dasar berisi mengenai suatu program perawatan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan dasar pasien sesuai dengan tanda dan gejala yang ditampilkan oleh pasien. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat ketika memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada pasien diantaranya :
a. Mengatur dan mengontrol jenis atau macam kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh pasien dan cara pemberian ke pasien
b. Meningkatkan kegiatan yang bersifat menunjang pemenuhan kebutuhan dasar seperti promosi dan pencegahan yang bisa menunjang dan mendukung pasien untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien sesuai dengan taraf kemandiriannya.
Beberapa pemahaman terkait terapi pemenuhan kebutuhan dasar diantaranya :
a. Perawat harus mampu mengidentifikasi faktor pada pasien dan lingkunganya yang mengarah pada gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia
b. Perawat harus mampu melakukan pemilihan alat dan bahan yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien, memanfaatkan segala sumberdaya yang ada disekitar pasien untuk memberikan pelyenana pemenuhan kebutuhan dasar pasien semaksimal mungkin.
5. Self Care Agency
Pemenuhan kebutuhan dasar pasien secara holistik hanya dapat dilakukan pada perawat yang memiliki kemampuan komprehensif, memahami konsep dasar manusia dan perkembangan manusia baik secara holistik ( orem, 2001, p. 514)
6. Agent
Pihak atau prerawat yang bisa memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada pasien adalah perawat dengan keahlian dan ketrampilan yang berkompeten dan memiliki kewenangan untuk memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada pasien secara holistik.
7. Dependent Care Agent
Dependent care agency merupakan perawat profesional yang memiliki tanggung jawab dan tanggung gugat dalam upaya perawatan pemenuhan kebutuhan dasar pasien termasuk pasien dalam derajat kesehatan yang masih baik atau masih mampu atau sebagain memenuhi kebutuhan dasar pada pasien. Pemberian kebutuhan dasar tetap menekankan pada kemandirian pasien sesuai dengan tingkat kemampuannya. Perawatan yang diberikan bisa bersifat promoting, prevensi dan lain-lain
8. Self Care Deficit
Perawat membantu pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, utamanya pada pasien yang dalam perawatan total care. Perawatan yang dilakukan biasanya kuratif dan rehabilitatif. Pemenuhan kebutuhan pasien hampir semunay tergantung pada pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh tim tenaga kesehatan utamanya perawat.
9. Nursing Agency
Perawat harus mampu meningkatkan dan mengembangkan kemampuanya secara terus menerus untuk bisa memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada pasien secara holistik sehingga mereka mampu membuktikan dirinya bahwa mereka adalah perawat yang berkompeten untuk bisa memberika pelayanan profesional untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien. Beberapa ktrempilan selain psikomotor yang juga harus dikuasai perawat adala komunikasi terapetik, ketrampilan intrapersonal, pemberdayaan sumberdaya di sekitar lingkungan perawat dan pasien untuk bisa memberikan pelayanan yang profesional.
10. Nursing Design
Penampilan perawat yang dibutuhkan untuk bisa memberikan asuhan keperawatan yang bisa memenuhi kebutuhan dasar pasien secara holistik adalah perawata yang profesioanl, mampu berfikir kritis, memiliki dan menjalankan standar kerja dll.
11. Sistem Keperawatan
Merupakan serangkaian tindakan praktik keperawatan yang dilakukan pada satu waktu untuk kordinasi dalam melakukan tindakan keperawatan pada klien untuk mengetahui dan memenuhi komponen kebutuhan perawatan diri klien yang therapeutic dan untuk melindungi serta mengetahui perkembangan perawatan diri klien

D. ASUMSI DASAR
Orem (2001) mengidentifikasi beberapa hal mendasar dari teori keperawatan terkait kebutuhan dasar manusia :
1. Kebutuhan dasar manusia bersifat berkelanjutan ,dimana pemenuhannya dipengaruhi dari faktor dari dalam pasien ataupun dari lingkungan
2. Human agency, pasien yang memiliki tingkatan ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya
3. Pengalaman dan pengetahuan perawat diperlukan untuk bisa memberikan pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar pasien secara profesional

Model Konsep Keperawatan
Imogene King
Interacting systems Frameworkand Middle range theory of goal attainment

A. KONSEP DASAR
1. Fokus teory Imogene M. King adalah Human Being dengan prinsip Goal Attainment ( Pencapaian tujuan ) yang berfokus pada system interpersonal.
2. Konsep teory Imogene M.King terdiri :
a. Interaksi
King mendefenisikan interaksi sebagai suatu proses dari persepsi dan komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan lingkungan yang dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal dalam mencapai tujuan.
b. Persepsi
Diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realita, persepsi berhubungan dengan pengalaman yang lalu, konsep diri, sosial ekonomi, genetika dan latar belakang pendidikan.
c. Komunikasi
Diartikan sebagai suatu proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
d. Transaksi
Sebagai interaksi yang mempunyai maksud tertentu dalam pencapaian tujuan. Yang termasuk dalam transaksi adalah pengamatan perilaku dari interaksi manusia dengan lingkungannya.
e. Peran
Merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari posisi pekerjaannya dalam sistem sosial. Tolok ukurnya adalah hak dan kewajiban sesuai dengan posisinya. Jika terjadi konflik dan kebingungan peran maka akan mengurangi efektifitas pelayanan keperawatan.
f. Stress
Diartikan sebagai suatu keadaan dinamis yang terjadi akibat interaksi manusia dengan lingkungannya. Stress melibatkan pertukaran energi dan informasi antara manusia dengan lingkungannya untuk keseimbangan dan mengontrol stressor.
g. Pertumbuhan dan perkembangan
Perubahan yang kontinue dalam diri individu. Tumbuh kembang mencakup sel, molekul dan tingkat aktivitas perilaku yang kondusif untuk membantu individu mencapai kematangan.
h. Waktu
Diartikan sebagai urutan dari kejadian/peristiwa ke masa yang akan datang. Waktu adalah perputaran antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sebagai pengalaman yang unik dari setiap manusia.
i. Ruang
Sebagai suatu hal yang ada dimanapun sama. Ruang adalah area dimana terjadi interaksi antara perawat dengan klien.
j. Jarak
Jarak secara fisik berhubungan dengan batas wilayah yang memiliki kebijakan masing-masing, kadang dapat diidentifikasi dari perilaku individu untuk memperlihatkan batasan wilayah tersebut.
3. King mengidentifikasi sistem yang dinamis dalam tiga sistem interaksi yang dikenal dengan Dynamic Interacting Systems, meliputi: Personal systems (individuals), interpersonal systems (groups) dan social systems (keluarga, sekolah, industri, organisasi sosial, sistem pelayanan kesehatan, dll) , dapat dilihat pada skema berikut ini :
Dynamic Interacting Systems

a. Sistem personal adalah individu atau klien yang dilihat sebagai sistem terbuka, mampu berinteraksi, mengubah energi, dan informasi dengan lingkungannya. Individu merupakan anggota masyarakat, mempunyai perasaan, rasional, dan kemampuan dalam bereaksi, menerima, mengontrol, mempunyai maksud-maksud tertentu sesuai dengan hak dan respon yang dimilikinya serta berorientasi pada tindakan dan waktu.
Sistem personal dapat dipahami dengan memperhatikan konsep yang berinteraksi yaitu:
1) Persepsi diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realita, persepsi berhubungan dengan pengalaman yang lalu, konsep diri, sosial ekonomi, genetika dan latar belakang pendidikan.
2) Diri adalah bagian dalam diri seseorang yang berisi benda-benda dan orang lain. Diri adalah individu atau bila seseorang berkata “AKU”. Karakteristik diri adalah individu yang dinamis, system terbuka dan orientasi pada tujuan.

3) Pertumbuhan dan perkembangan :
Tumbuh kembang meliputi perubahan sel, molekul dan perilaku manusia. Perubah ini biasanya terjadi dengan cara yang tertib, dan dapat diprediksikan walaupun individu itu bervariasi, dan sumbangan fungsi genetic, pengalaman yang berarti dan memuaskan. Tumbuh kembang dapat didefinisikan sebagai proses diseluruh kehidupan seseorang dimana dia bergerak dari potensial untuk mencapai aktualisasi diri.
4) waktu
Diartikan sebagai urutan dari kejadian/peristiwa ke masa yang akan datang. Waktu adalah perputaran antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sebagai pengalaman yang unik dari setiap manusia.
5) Ruang
Sebagai suatu hal yang ada dimanapun sama. Ruang adalah area dimana terjadi interaksi antara perawat dengan klien.
6) Jarak : Jarak secara fisik berhubungan dengan batas wilayah yang memiliki kebijakan masing-masing, kadang dapat diidentifikasi dari perilaku individu untuk memperlihatkan batasan wilayah tersebut.

b. Sistem interpersonal adalah dua atau lebih individu atau grup yang berinteraksi. Interaksi ini dapat dipahami dengan melihat lebih jauh konsep tentang peran, interaksi, komunikasi, transaksi, stress, koping.
1) Peran : Merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari posisi pekerjaannya dalam sistem sosial. Tolok ukurnya adalah hak dan kewajiban sesuai dengan posisinya. Jika terjadi konflik dan kebingungan peran maka akan mengurangi efektifitas pelayanan keperawatan.
2) Interaksi : King mendefenisikan interaksi sebagai suatu proses dari persepsi dan komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan lingkungan yang dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal dalam mencapai tujuan.
Komunikasi : Diartikan sebagai suatu proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
3) Transaksi : Sebagai interaksi yang mempunyai maksud tertentu dalam pencapaian tujuan. Yang termasuk dalam transaksi adalah pengamatan perilaku dari interaksi manusia dengan lingkungannya.
4) Stress : Diartikan sebagai suatu keadaan dinamis yang terjadi akibat interaksi manusia dengan lingkungannya. Stress melibatkan pertukaran energi dan informasi antara manusia dengan lingkungannya untuk keseimbangan dan mengontrol stressor.
5) Koping :
c. Sistem sosial merupakan sistem dinamis yang akan menjaga keselamatan lingkungan. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat, interaksi, persepsi, dan kesehatan. Sistem sosial dapat mengantarkan organisasi kesehatan dengan memahami konsep organisasi, otoritas/wewenang , kekuasaan, status dan pengambilan keputusan.
1) Organisasi
Organisasi bercirikan struktur posisi yang berurutan dan aktifitas yang berhubungan dengan pengaturan formal dan informal seseorang dan kelompok untuk mencapai tujuan personal atau organisasi.
2) Otoritas ;
King mendefinisikan otoritas atau wewenang, bahwa wewenang itu aktif, proses transaksi yang timbal balik dimana latar belakang, persepsi, nilai-nilai dari pemegang mempengaruhi definisi, validasi dan penerimaan posisi di dalam organisasi berhubungan dengan wewenang.
3) Kekuasaan
Kekuasaan adalah universal, situasional, atau bukan sumbangan personal, esensial dalam organisasi, dibatasi oleh sumber-sumber dalam suatu situasi, dinamis dan orientasi pada tujuan.
4) Pembuatan keputusan
Pembuatan atau pengambilan keputusan bercirikan untuk mengatur setiap kehidupan dan pekerjaan, orang, universal, individual, personal, subjektif, situasional, proses yang terus menerus, dan berorientasi pada tujuan.
5) Status
Status bercirikan situasional, posisi ketergantungan, dapat diubah. King mendefinisikan status sebagai posisi seseorang didalam kelompok atau kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain di dalam organisasi dan mengenali bahwa status berhubungan dengan hak-hak istimewa, tugas-tugas, dan kewajiban.

B. Asumsi King
King mengasumsikan model konsep dan teori keperawatan secara eksplisit maupun implisit.
Asumsi eksplisit meliputi :
1. Focus sentral dari keperawatan adalah interaksi dari manusia dan lingkungannya, dengan tujuan untuk kesehatan manusia
2. Individu adalah social, mengirim, rasional, reaksi, penerimaan, control, berorientasi pada kegiatan waktu.
3. Proses interaksi dipengaruhi oleh persepsi, tujuan, kebutuhan, dan nilai klien serta perawat.
4. Manusia sebagai pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi, berpartisipasi dalam membuat keputusan yng mempengaruhi kehidupannya, kesehatan, dan pelayanan komunitas dan menerima atau menolak keperawatan.
5. Tanggung jawab dari anggota tim kesehatan adalah memberikan informasi kepada individu tentang semua aspek kesehatan untuk membantu mereka membuat atau mengambil keputusan.
6. Tujuan dari memberi pelayanan kesehatan dan menerima pelayanan mungkin tidak sama.
Asumsi implicit meliputi :
1. Pasien ingin berpartisipasi secara aktif dalam proses keperawatan.
2. Pasien sadar, aktif, dan secara kognitif mampu berpartisipasi dalam pembuatan atau pengambilan keputusan.
3. Individu mempunyai hak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri.
4. Individu mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan kesehatan.
C. Pandangan King terhadap keperawatan
1. Konsep Manusia
King memandang manusia sebagai suatu system terbuka yang berinteraksi dengan lingkungan yang memungkinkan benda, energi, dan informasi dengan leluasa mempengaruhinya. Dalam kerangka konsepnya meliputi tiga system interaksi yang dinamis sebagai individu disebut sebagai system personal, ketika individu ini bersatu dalam kelompok disebut system interpersonal. System social tercipta ketika kelompok mempunyai ketertarikan dan tujuan yang sama dalam satu komunitas atau masyarakat.
2. Konsep Lingkungan
Menurut King lingkungan adalah system social yang ada dalam masyarakat yang saling berinteraksi dengan system lainnya secara terbuka. Lingkungan merupakan suatu system terbuka yang menunjukkan pertukaran masalah, energi, informasi dengan keberadaan manusia. Manusia tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan internal dengan penukaran energi yang diatur secara terus menerus terhadap perubahan lingkungan eksternal.
3. Konsep Sehat
King mendefinisikan sehat sebagai pengalaman hidup manusia yang dinamis, yang secara berkelanjutan melakukan penyesuaian terhadap stressor internal dan eksternal melewati rentang sehat sakit, dengan menggunakan sumber- sumber yang dimiliki oleh seseorang atau individu untuk mencapai kehidupan sehari- sehari yamg maksimal.
4. Konsep Keperawatan
King menyampaikan pola intervensi keperawatannya adalah proses interaksi klien dan perawat meliputi komunikasi dan persepsi yang menimbulkan aksi, reaksi, dan jika ada gangguan, menetapkan tujuan dengan maksud tercapainya suatu persetujuan dan membuat transaksi.
Model Konsep Keperawatan
Betty Neuman
System model.
Teori Model Betty Neuman
Konsep utama yang terdapat pada model Neuman, meliputi: stresor, garis pertahanan dan perlawanan, tingkatan pencegahan, lima variabel sistem klien, struktur dasar, intervensi dan rekonstitusi (Fitzpatrick & Whall, 1989)

1. Stressor
Stressor adalah kekuatan lingkungan yang menghasilkan ketegangan dan berpotensial untuk menyebabkan sistem tidak stabil. Neuman mengklasifikasi stressor sebagai berikut :
a. Stressor intrapersonal : terjadi dalam diri individu/keluarga dan berhubungan dengan lingkungan internal. Misalnya : respons autoimmun
b. Stressor interpersonal : yang terjadi pada satu individu/keluarga atau lebih yang memiliki pengaruh pada sistem. Misalnya : ekspektasi peran
c. Stressor ekstrapersonal : juga terjadi diluar lingkup sistem atau individu/keluarga tetapi lebih jauh jaraknya dari sistem dari pada stressor interpersonal. Misalnya : sosial politik.
2. Garis pertahanan dan perlawanan
Garis pertahanan menurut Neuman’s terdiri dari garis pertahanan normal dan garis pertahanan fleksibel. Garis pertahanan normal merupakan lingkaran utuh yang mencerminkan suatu keadaan stabil untuk individu, sistem atau kondisi yang menyertai pengaturan karena adanya stressor yang disebut wellness normal dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan adanya deviasi dari keadaan wellness untuk sistem klien. Selain itu ada berbagai stressor yang dapat menginvasi garis pertahanan normal jika garis pertahanan fleksibelnya tidak dapat melindungi secara adekuat. Jika itu terjadi. maka sistem klien akan bereaksi dengan menampakan adanya gejala ketidakstabilan atau sakit dan akan mengurangi kemampuan sistem untuk mengatasi stressor tambahan. Garis pertahanan normal ini terbentuk dari beberapa variabel dan perilaku seperti pola koping individu, gaya hidup dan tahap perkembangan. Garis pertahanan normal ini merupakan bagian dari garis pertahanan fleksibel.
Garis pertahanan fleksibel berperan memberikan respon awal atau perlindungan pada sistem dari stressor. Garis ini bisa menjauh atau mendekat pada garis pertahanan normal. Bila jarak antara garis pertahanan meningkat maka tingkat proteksipun meningkat. Oleh sebab itu untuk mempertahankan keadaan stabil dari sistem klien, maka perlu melindungi garis pertahanan normal dan bertindak sebagai buffer. Kondisi ini bersifat dinamis dan dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Disamping itu hubungan dari berbagai variabel (fisiologi, psikologis, sosiokultur, perkembangan dan spiritual) dapat mempengaruhi tingkat penggunaan garis pertahanan diri fleksibel terhadap berbagai reaksi terhadap stressor.
Sedangkan garis perlawanan menurut Neuman’s merupakan serangkaian lingkaran putus-putus yang mengelilingi struktur dasar. Artinya garis resisten ini melindungi struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor lingkungan melalui garis normal pertahanan (normal line of defense). Misalnya mekanisme sistem immun tubuh. Jika lines of resistance efektif dalam merespon stressor tersebut, maka sistem depan berkonstitusi, jika tidak efektif maka energi berkurang dan bisa timbul kematian.
3. Tingkatan pencegahan
Tingkatan pencegahan ini membantu memelihara keseimbangan yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tersier.
a. Pencegahan primer :
Terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap stressor, meliputi promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Strateginya mencakup : immunisasi, pendidikan kesehatan, olah raga dan perubahan gaya hidup.
b. Pencegahan sekunder.
Meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance, mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan sistem secara optimal dan memelihara energi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung sistem dan intervensi-intervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian.
c. Pencegahan Tersier
Dilakukan setelah sistem ditangani dengan strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat mempertahankan energi. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer.
4. Sistem klien
Model Sistem Neuman merupakan suatu pendekatan sistem yang terbuka dan dinamis terhadap klien yang dikembangkan untuk memberikan suatu kesatuan fokus definisi masalah keperawatan dan pemahaman terbaik dari interaksi klien dengan lingkungannya. Elemen-elemen yang ada dalam sistem terbuka mengalami pertukaran energi informasi dalam organisasi kompleksnya. Stress dan reaksi terhadap stres merupakan komponen dasar dari sistem terbuka. Klien sebagai sistem bisa individu, keluarga, kelompok, komunitas atau sosial issue (Tomey & Alligood, 1998). Klien sebagai suatu sistem memberikan arti bahwa adanya keterkaitan antar aspek yang terdapat dalam sistem tersebut. Kesehatan klien akan dipengaruhi oleh keluarganya, kelompoknya, komunitasnya, bahkan lingkungan sosialnya.
Neuman meyakini bahwa klien adalah sebagai suatu sistem, memiliki lima variabel yang membentuk sistem klien yaitu fisik, psikologis, sosiokultur, perkembangan dan spiritual. Selanjutnya juga dijelaskan oleh Neuman bahwa klien merupakan cerminan secara wholistik dan multidimensional (Fawcett, 2005). Dimana secara wholistik klien dipandang sebagai keseluruhan yang bagian-bagiannya berada dalam suatu interaksi dinamis. Pernyataan tersebut membuktikan bahwa setiap orang itu akan memiliki keunikan masing-masing dalam mempersepsikan dan menanggapi suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari. Perubahan istilah dari Holistik menjadi Wholistik untuk meningkatkan pemahaman terhadap orang secara keseluruhan. Disamping itu klien atau sistem dapat menangani stressor dengan baik, sehingga sakit atau kematian.tan atau stabilitasasi system. perubazhan dapat mempertahankan kesehatan secara adekuat. Keseimbangan fungsional atau harmonis menjaga keutuhan integritas sistem. Apabila bagian-bagian dari klien berinteraksi secara harmonis, maka akan terwujud jika kebutuhan-kebutuhan sistem telah terpenuhi. Namun apabila terjadi ketidakharmonisan diantara bagian-bagian dari system, hal ini disebabkan karena adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi.

5. Struktur dasar
Struktur dasar berisi seluruh variable untuk mempertahankan hidup dasar yang biasa terdapat pada manusia sesuai karakteristik individu yang unik. Variabel-variabel tersebut yaitu variabel sistem, genetik, dan kekuatan/kelemahan bagian-bagian sistem.
6. Intevensi
Merupakan tindakan-tindakan yang membantu untuk memperoleh, meningkatkan dan memelihara sistem keseimbangan, terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tertier.
7. Rekonstitusi
Neuman (1995) mendefinisikan rekonstitusi sebagai peningkatan energi yang terjadi berkaitan dengan tingkat reaksi terhadap stressor. Rekonstitusi dapat dimulai menyertai tindakan terhadap invasi stressor..Rekonstitusi adalah suatu adaptasi terhadap stressor dalam lingkungan internal dan eksternal. Rekonstitusi bisa memperluas normal line defense ke tingkat sebelumnya, menstabilkan sistem pada tingkat yang lebih rendah, dan mengembalikannya pada tingkat semula sebelum sakit. Yang termasuk rekonstitusi adalah faktor-faktor interpersonal, intrapersonal, ekstrapersonal dan lingkungan yang berkaitan dengan variabel fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual.

Model Konsep Keperawatan
Sister Callista Roy
Adaptation Model

A. TINJAUAN TEORITIS THE ROY ADAPTATION MODEL

1. Manusia Sebagai System Adaptive.
Sistem, adalah suatu set dari beberapa bagian yang berhubungan dengan keseluruhan fungsi untuk beberapa tujuan dan demikian juga keterkaitan dari beberapa bagiannya. Dengan kata lain bahwa untuk memeliki keseluruhan bagian-bagian yang saling berhubungan, sistem juga memiliki input, out put, dan control, serta proses feedback.
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistim yang dapat menyesuaikan diri (adaptive system ). Sebagai sistim yang dapat menyesuaikan diri manusia dapat digambarkan secara holistik (bio, psicho, Sosial) sebagai satu kesatuan yang mempunyai Inputs (masukan), Control dan Feedback Processes dan Output (keluaran/hasil). Proses kontrol adalah Mekanisme Koping yang dimanifestasikan dengan cara-cara penyesuaian diri. Lebih spesifik manusia didefinisikan sebagai sebuah sistim yang dapat menyesuaikan diri dengan activifitas kognator dan Regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara-cara penyesuaian yaitu : Fungsi Fisiologis, Konsep diri, Fungsi peran, dan Interdependensi.
Dalam model adaptasi keperawatan menurut Roy manusia dijelaskan sebagai suatu sistim yang hidup, terbuka dapat menyesuaikan diri dari perubahan suatu unsur, zat, materi yang ada dilingkungan. Sebagai sistim yang dapat menyesuikan diri manusia dapat digambarkan dalam karakteristik sistem, manusia dilihat sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan antara unit unit fungsionil atau beberapa unit fungsionil yang mempunyai tujuan yang sama. Sebagai suatu sistim manusia dapat juga dijelaskan dalam istilah Input, Control, Proses Feedback, dan Output.
1) Input (Stimulus)
Pada manusia sebagai suatu sistim yang dapat menyesuaikan diri: yaitu dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri (Faz Patrick & Wall; 1989). Input atau stimulus yang masuk, dimana feedbacknya dapat berlawanan atau responnya yang berubah ubah dari suatu stimulus. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai tingkat adaptasi yang berbeda dan sesuai dari besarnya stimulus yang dapat ditoleransi oleh manusia.

2) Mekanisme Koping.
Adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (stuart, sundeen; 1995). Manusia sebagai suatu sistim yang dapat menyesuaikan diri disebut mekanisme koping, yang dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu Mekanisme koping bawaan dan dipelajari.
Mekanisme koping bawaan, ditentukan oleh sifat genetic yang dimiliki, umumnya dipandang sebagai proses yang terjadi secara otomatis tanpa dipikirkan sebelumnya oleh manusia. Sedangkan mekanisme koping yang dipelajari, dikembangkan melalui strategi seperti melaui pembelajaran atau pengalaman-pengalaman yang ditemui selama menjalani kehidupan berkontribusi terhadap respon yang biasanya dipergunakan terhadap stimulus yang dihadapi.
Respon adaptif, adalah keseluruhan yang meningkatkan itegritas dalam batasan yang sesuai dengan tujuan “human system”.
Respon maladaptif, yaitu segala sesuatu yang tidak memberikan kontribusi yang sesuai dengan tujuan “human system.
Dua Mekanisme Coping yang telah diidentifikasikan yaitu: Susbsistim Regulator dan Susbsistim Kognator. Regulator dan Kognator adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubungannya terhadap empat effektor atau cara penyesuaian diri yaitu: Fungsi Phisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan Interdependensi. (Baca Poin 1.4: Sistem Regulator dan Kognator)
3) Output
Faz Patrick & Wall (1989), manusia sebagai suatu sistim adaptive adalah espon adaptive (dapat menyesuaikan diri) dan respon maldaptive (tidak dapat menyesuaikan diri). Respon-respon yang adaptive itu mempertahankan atau meningkatkan intergritas, sedangkan respon maladaptive dapat mengganggu integritas. Melalui proses feedback, respon-respon itu selanjutnya akan menjadi Input (masukan) kembali pada manusia sebagai suatu sistim.
Perilaku adaptasi yang muncul bervariasi, perilaku seseorang berhubungan dengan metode adaptasi. Koping yang tidak konstruktif atau tidak efektif berdampak terhadap respon sakit (maladaptife). Jika pasien masuk pada zona maladaptive maka pasien mempunyai masalah keperawatan adaptasi (Nursalam; 2003).
4) Subsistem Regulator dan Kognator
Adalah mekanisme penyesuaian atau Koping yang berhubungan dengan perubahan lingkungan, diperlihatkan melalui perubahan Biologis, Psikhologis dan social. Subsistim Regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada sistim saraf, kimia tubuh, dan organ endokrin. Subsistim regulator merupakan mekanisme kerja utama yang berespon dan beradaptasi terhadap stimulus lingkungan. Subsistim Kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan kognitif dan emosi, termasuk didalamnnya persepsi, proses informasi pembelajaran,membuat alasandanemosional

AHLI TEORI KEPERAWATAN
APLIKASI TEORI IDA JEAN ORLANDO
NURSING PROCCES THEORY

A. Biografi
Ida Jean Orlando Pelletier lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New Jersey. Ia telah aktif berkarir sebagai pelaksana , pendidik, peneliti dan konsultan dalam bidang keperawatan. Pada awal karirnya ia bekerja sebagai staf keperawatan diberbagai bidang seperti obstetri, perawatan penyakit dalam dan bedah, serta di ruang emergenci. Ia juga telah menjabat sebagai suvervisor dan menjabat sebagai asisten dua direktur keperawatan. Ia diterima di Diploma Keperawatan di New York tahun 1947, medapat gelar Bachelor of Nursing pada tahun 1951 dari Universitas di Brooklyn New York, Pada tahun 1954 menerima MA di mental health consultation dari Universitas Colombia. Buku pertamanya yang dipublikasikan pada tahun 1961dan diprint ulang pada tahun 1990 yaitu hubungan dinamis perawat-pasien : fungsi, prinsip dan proses. Ia juga menjabat sebagai pimpinan graduate program dalam kesehatan mental dan psikiatri nursing di Yale. Orlando juga aktif dibebagai organisasi seperti pada Massachusetts Nurses’ Associations dan di Harvard Community Health Plan. Ia juga sebagai dosen dan konsultan pada berbagai institusi keperawatan.
Dalam teorinya Orlando mengemukanan tentang beberapa konsep utama, diantaranya adalah konsep disiplin proses keperawatan ( nursing process discipline) yang juga dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006: 434).
Orlando juga menggambarkan mengenai disiplin nursing proses sebagai interaksi total (total interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat (George, 1995 ;162)

B. Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan Orlando
Asumsi Orlando terhadap paradigma keperawatan hampir seluruhnya terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993) mendapatkan dari tulisan Orlando mengenai empat area yang ditekuninya :
1. Perawat
Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien, reaksi perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien
2. Manusia
Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya.
2. Sehat
Orlando tidak medefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.
4. Lingkungan
Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan keduanya mempersepsikan, berfikit, dan merasakan dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.

C. Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan Orlando

PERSON A PERSON B
Reaction Reaction
Secret Secret

Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Dan sebagai orang pertama yang mengidentifikasi dan menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan dan hal-hal kritis penting dari partisipasi pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama halnya dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, Orlando menyebutnya sebagai ”nursing procces discipline”. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu
1. fungsi perawat profesional.
2. mengenal perilaku pasien.
3. respon internal atau kesegaran.
4. disiplin proses keperawatan
5. kemajuan.
1. Tanggung jawab perawat
Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam mendapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat harus mengetahui kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat harus mengetahui benar peran profesionalnya, aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu pasien. Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus pada aktivitas-aktivitas yang benar-benar menjadi kewenangannya.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukkan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien , berfikir dan merasakan.
4. Disiplin proses keperawatan
Menurut George (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat.
5. Kemajuan / peningkatan
Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.

D. Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan dalam nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan. (Tomey, 2006 hlm 434). Disiplin proses keperawatan didasarkan pada ” proses bagaimana seseorang bertindak”. Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan pasien adalah untuk membantu pemenuhan kebutuhan pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai hasil yang diharapkan.
1. Perilaku Pasien
Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien . seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan hal ini pada prinsip pertamanya ” dengan diketahuinya perilaku pasien , atau tidak diketahuinya yang seharusnya ada hal tersebut menunjukan pasien membutuhkan suatu bantuan”.
Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku ini dapat dijadikan faktor kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien. Perilaku verbal yang menunjukan perlunya pertolongan seperti keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan, menghindar kontak mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien dapat menjadi indikasi perlunya bantuan tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien. Tidak efektifnya perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-pasien, ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat, atau reaksi negatif pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat harus dirancang untuk menyelesaikan perilaku seperti halnya memenuhi kebutuhan yang emergenci
2. Reaksi Perawat
Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini terdiri dari 3 bagian yaitu pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian
Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir simultan. Oleh karena itu perawat harus belajar mengidentifikasi setiap bagian dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi yang menentukan mengapa ia berespon demikian. Perawat harus dapat menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien.
Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi reaksinya dengan pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan penggunaan dalam hal berbagi “ beberapa observasi dilakukan dan dieksporasi dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu “.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu ;
a. Perawat harus segera menemui pasien dan konsisten terhadap perilaku verbal dan nonverbalnya kepada pasien
b. Perawat harus dapat mengkomunikasikannya dengan jelas terhadap apa yang akan diekspresikannya
c. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau klarifikasi.
3. Tindakan Perawat
Setelah memvalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku pasien, perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan keperawatan, Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan profesional perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui tindakan atau kata-katanya.
Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan tindakan terencana. Hanya tindakan terencana yang memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:
a. Tindakan merupakan hasil dari indetifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien.
b. Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi kebituhan pasien.
c. Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap
d. Perawat membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien ketika melakukan tindakan.
Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi reaksi perawat
4. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat perawat dalam menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivias termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan pasien.
Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan suatu perilaku pasien yang membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membagi aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi reaksinya dan perawat membantu pasien dengan menggunakan proses yang sama agar komunikasi lebih efektif . Selanjutnya tindakan yang sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling menguntungkan antara pasien dan perawat. Setelah perawat bertindak , perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya berhasil . Secara keseluruhan interaksi , perawat meyakinkan bahwa perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan reaksinya terhadap pasien.

E. Analisis Teori Orlando.
Kejelasan (Clarity)
Kesederhanaan (Simplicity)
Keadaan Umum ( Generality )
Ketepatan Empirik ( Empirical Precision )
Konsekuensi untuk diturunkan ( Derivable Consequences)
1. Kejelasan (Clarity )
Pada buku pertamanya ”The dynamic Nurse patien relation ship function,process and principles of professional nursing practice” (1961),Orlando memperkenalkan konsep dengan jelas.Ia secara konsisten menggunakan terminologi yang sama pada teorinya. Pada buku keduanya ” The Discipline and teaching of nursing prosess ; an evaluative study (1972) Ia menggambarkan kembali proses keperawatan yang berhati-hati adalah proses keperawatan yang disiplin. Yang lain selain perubahan ini,Orlando secara konsisten menggunakan kata yang sama untuk komponen prosesnya. Orlando menggambarkan konsep yang minimal pada mulanya dan kemudian mengembangkannya di seluruh buku.
Perkembangan dari teorinya mengharuskan pembaca untuk lebih familiar dengan kedua buku. Meskipun tulisannya jelas dan ringkas,beberapa kali pengulangan memudahkan pemahaman.
2. Kesederhanaan ( simplicity )
Karena teori Orlando berhubungan dengan sedikit konsep dan hubungan antar masing-masing konsep,maka teorinya sederhana. Teorinya juga dapat dilihat secara sederhana, sebab ia dapat membuat beberapa pernyataan prediksi dan tidak hanya menggambarkan dan menjelaskan .kesederhanaan dari teori Orlando menguntungkan pada panggunaan penelitian.
Walker dan Avant ( 1995) menggunakan teori Orlando sebagai satu contoh dari grand nursing teori ; meskipun tidak semua grand teori berada pada level abstrak yang sama, mereka menetapkan bahwa grand nursing teory memberikan pandangan secara global,tetapi berdasarkan atas sifatnya yang umum dan keabstrakannya, banyak dari grand teori tidak dapat diuji pada kondisi sekarang.
Teori Orlando juga digambarkan sebagai praktis teori . praktis teori memberikan kerangka kerja untuk menetapkan kapan menerapkan pedoman, menggambarkan arti untuk digunakan, dan menetapkan tujuan yang akan digunakan untuk mengevaluasi hasil (George,1995).
3. Keadaan Umum ( Generality )
Orlando mengilustrasikan kontak perawat – pasien pada keadaan pasien sadar, dapat berkomunikasi dan memerlukan pertolongan. Meskipun tidak fokus pada pasien yang tidak sadar ataupun berkelompok .Aplikasi dari teorinya tetap dapat dikerjakan dengan mudah. Perilaku non verbal adalah unsur dari perumusannya ,oleh karena itu perawat dapat fokus pada hal ini untuk menentukan kebutuhan pasien dan mengobservasi perubahan perilaku non verbal setelah tindakan perawatan.
4. Ketepatan Empirik ( empirical Precision )
Pada buku Orlando yang kedua ” The discipline and Teaching of nursing process ; an evaluative study ” (1972), adalah laporan dari proyek penelitiannya untuk menguji ketepatan rumusan perawatannya. Program pelatihan ini berdasarkan rumusannya sudah berjalan selama 3 tahun sebelum proyek penelitian dimulai. Perawat dilatih untuk menggunakan proses keperawatan secara disiplin pada hubungan perawat – pasien.
Tujuan dari proyek adalah untuk mengevaluasi keefektifan disiplin proses perawatan pada kontak perawat di tempat kerja dan keefektifan program pelatihan, keefektifan ditentukan oleh ada atau tidak hasil yang bermanfaat , yang dinilai oleh 2 penilai dari luar yang dapat dipercaya .Penilai ini membandingkan antara perilaku awal dari subjek dengan perilaku akhirnya
5. Konsekuensi untuk diturunkan ( Derivable Consequences)
Teori Orlando tetap efektif dan efisien dalam mencapai hasil yang bernilai segera mengidentifikasi kebutuhan pasien dan kemampuan perawat untuk menentukan kebutuhan pasien adalah kemajuan dari praktek keperawatan. Keteraturan proses perawatan membuat perawat dapat melihat pasien dari sudut
pandang keperawatan daripada orientasi penyakit medisnya.
Menggunakan teori Orlando menguntungkan pasien, meningkatkan profesionalisme perawat dan memajukan profesi perawat.

AHLI TEORI KEPERAWATAN
APLIKASI TEORI MADELEINE LEININGER
TRANSKULTURAL NURSING

A. Teori Leininger
Teori Leininger berasal dari disiplin ilmu antropologi, tapi konsep teori ini relevan untuk keperawatan. Leininger mendefinisikan “Transkultural Nursing” sebagai area yang luas dalam keperawatan yang mana berfokus pada komparatif studi dan analisis perbedaan kultur dan subkultur dengan menghargai prilaku caring, nursing care dan nilai sehat-sakit, kepercayaan dan pola tingkah laku dengan tujuan perkembangan ilmu dan humanistic body of knowledge untuk kultur yang spesifik dan kultur yang universal dalam keperawatan.
Tujuan dari transkultural dalam keperawatan adalah kesadaran dan apresiasi terhadap perbedaan kultur. Hal ini berarti perawat yang professional memiliki pengetahuan dan praktek yang berdasarkan kultur secara konsep perencanaan dan untuk praktek. Leininger mengembangkan teorinya dari perbedaan kultur dan universal berdasarkan kepercayaan bahwa masyarakat dengan perbedaan kultur dapat menjadi sumber informasi dan menentukan jenis perawatan yang diinginkan dari pemberi pelayanan yang professional, karena kultur adalah pola kehidupan masyarakat yang berpengaruh terhadap keputusan dan tindakan. Culture care adalah teori yang holistic karena meletakkan didalamnya ukuran dari totalitas kehidupan manusia dan berada selamanya, termasuk sosial struktur, pandangan dunia, nilai cultural, konteks lingkungan, ekspresi bahasa dan etnik serta sistem professional.

B. Paradigma Keperawatan Teori Keperawatan Leininger
Paradigma keperawatan transkultural adalah cara pandang, keyakinan, nilai-nilai dan konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral yaitu : manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Leininger, 1984 dalam Barnum, 1998; Andrew & Boyle, 1995). Pemahaman perawat terhadap paradigma keperawatan transkultural merupakan acuan terlaksananya penerapan asuhan keperawatan transkultural.
1. Manusia / klien
Manusia adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini yang berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan tindakan (Leininger, 1984 dalam Barnum, 1998; Giger & Davidhizar, 1995 ; Andrew & Boyle, 1995). Menurut Leininger (1984), manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada.

2. Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannnya, terletak pada rentang sehat sakit Leininger, 1978). Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari (Andrew & Boyle, 1995).
Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Leininger, 1978). Asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan meningkatkan kemampuan klien memilih secara aktif budaya yang sesuai dengan status kesehatannya. Untuk memilih budaya yang sesuai dengan status kesehatannya, dicapai melalui belajar dengan lingkungannya. Sehat yang dicapai adalah kesehatan yang holistic dan humanistic, karena melibatkan peran serta klien yang lebih dominan.
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan prilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu fisik, sosial dan simbolik (Andrew & Boyle, 1995).
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau yang diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukimam padat dan iklim. Lingkungan fisik dapat membentuk budaya tertentu misalnya bentuk rumah di daerah panas yang banyak lubang dengan bentuk rumah orang Eskimo hampir tertutup rapat (Andrew & Boyle, 1995). Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu atau kelompok kedalam masyarakat yang lebih luas seperti keluarga, komunitas dan tempat ibadah. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk atau symbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa atau atribut yang digunakan. Penggunaan lingkungan simbolik bermakna bahwa individu memiliki tenggang rasa dengan kelompoknya seperti : penggunaan bahasa pengantar, identifikasi nilai-nilai dan norma serta penggunaan atribut-atribut seperti pemakaian ikat kepala, kalung, anting, telepon, hiasan dinding atau slogan-slogan. (Andrew & Boyle, 1995)
4. Keperawatan
Keperawatan dipandang sebagai suatu ilmu dan kiat yang diberikan kepada klien dengan berfokus pada prilaku, fungsi dan proses untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan atau pemulihan dari sakit (Andrew & Boyle, 1995). Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan sesuai dengan budaya klien. Asuhan keperawatan diberikan sesuai dengan karakteristik ruang lingkup keperawatan, dikelola secara profesional dalam konteks budaya klien dan kebutuhan asuhan keperawatan Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan /mempertahankan budaya, mengakomodasi/menegosiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1984).
Mempertahankan budaya (cara I) dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolah raga setiap pagi.
Negosiasi budaya (cara II) yaitu intervensi dan implementasi keperawatan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien yang sedang hamil mempunyai pantangan makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.
Restrukturisasi budaya klien (cara III) dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatannya. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Seluruh perencanaan dan implementasi keperawatan dirancang sesuai latar belakang budaya sehingga budaya dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut
C. Konsep Utama Teori Transkultural
Konsep utama transkultural adalah sebagai berikut :
1. Culture Care
Nilai-nilai, keyakinan, norma, pandangan hidup yang dipelajari dan diturunkan serta diasumsikan yang dapat membantu mempertahankan kesejahteraan dan kesehatan serta meningkatkan kondisi dan cara hidupnya.
2. World View
Cara pandang individu atau kelompok dalam memandang kehidupannya sehingga menimbulkan keyakinan dan nilai.
3. Culture and Social Structure Dimention
Pengaruh dari factor-faktor budaya tertentu (sub budaya) yang mencakup religius, kekeluargaan, politik dan legal, ekonomi, pendidikan, teknologi dan nilai budaya yang saling berhubungan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku dalam konteks lingkungan yang berbeda
4. Generic Care System
Budaya tradisional yang diwariskan untuk membantu, mendukung, memperoleh kondisi kesehatan, memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup untuk menghadapi kecacatan dan kematiannya.
5. Profesional system
Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan yang memiliki pengetahuan dari proses pembelajaran di institusi pendidikan formal serta melakukan pelayanan kesehatan secara professional.
6. Culture Care Preservation
Upaya untuk mempertahankan dan memfasilitasi tindakan professional untuk mengambil keputusan dalam memelihara dalam memelihara dan menjaga nilai-nilai pada individu atau kelompok sehingga dapat mempertahankan kesejahteraan, sembuh dan sakit, serta mampu menghadapi kecacatan dan kematian.
7. Culture Care Acomodation
Teknik negosiasi dalam memfasilitasi kelompok orang dengan budaya tertentu untuk beradaptasi/berunding terhadap tindakan dan pengambilan kesehatan.
8. Cultural Care Repattering.
Menyusun kembali dalam memfasilitasi tindakan dan pengambilan keputusan professional yang dapat membawa perubahan cara hidup seseorang.
9. Culture Congruent / Nursing Care
Suatu kesadaran untuk menyesuaikan nilai-nilai budaya / keyakinan dan cara hidup individu/ golongan atau institusi dalam upaya memberikan asukan keperawatan yang bermanfaat.

D. Transkultural Care Dengan Proses Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan transkultural, perawat perlu memahami landasan teori dan praktik keperawatan. Keberhasilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sangat tergantung pada kemampuannya mensintesis berbagai ilmu dan mengaplikasikannya ke dalam bentuk asuhan keperawatan yang sesuai latar belakang budaya klien (Andrew & Boyle, 1995). Terlaksananya asuhan keperawatan transkultural amat ditentukan oleh pemahaman pengetahuan perawat pelaksana tentang teori asuhan keperawatan transkultural, karena pengetahuan yang dimiliki tersebut akan mengklarifikasi fenomena, mengarahkan dan menjawab fenomena yang dijumpai pada diri klien dan keluarganya.

Model konseptual asuhan keperawatan transkultural dikembangkan dalam Leininger’s Sunrise Model untuk menggambarkan teori asuhan keperawatan yang diberikan pada berbagai budaya. Proses keperawatan digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien ( Kelley & Frisch, 1990, Geisser, 1991 dalam Andrew & Boyle, 1995). Model konseptual asuhan keperawatan transkultural tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Pendekatan dengan menggunakan proses keperawatan digunakan oleh perawat pelaksana dalam melakukan asuhan keperawatan transkultural. Pengelolaan asuhan keperawatan transkultural dengan menggunakan proses keperawatan mulai pengkajian, menegakkan diagnosa, intervensi dan implementasi sampai evaluasi
Sunrise Model yang dikemukakan oleh Leinenger merupakan teori yang sangat memiliki kesesuaian dengan penerapan proses keperawatan karena merepresentasikan dari proses pemecahan masalah. Fokus proses keperawatan adalah klien sebagai penerima layanan kesehatan, sedangkan klien dalam pandangan Sunrise model difokuskan pada pengetahuan dan pemahaman akan budaya yang dimiliki oleh klien sebagai suatu kekuatan utama.
Culture shock dapat dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana klien tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan, sehingga memunculkan perasaan ketidaknyaman, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Pemahaman perawat tentang Sunrise Model membantu perawat untuk mencegah terjadi culture shock dan culture imposition (shock dan pemaksaan budaya)
Penerapan teori Leineger (Sunrise Model) pada proses keperawatan dapat dijelaskan sebagai berikut :
Proses Keperawatan Sunrise Model
Pengkajian dan Diagnosis Pengkajian terhadap Level satu, dua dan tiga yang meliputi :
Level satu : World view and Social system level
Level dua : Individual, Families, Groups communities and
Institution in diverse health system
Level tiga : Folk system, professional system and nursing
Perencanaan dan Implementasi Level empat : Nursing care Decition and Action
Culture Care Preservation/maintanance
Culture Care Accomodation/negotiations
Culture Care Repatterning/restructuring
Evaluasi
Dalam penerapan proses keperawatan, pengetahuan budaya harus dimiliki sebelum mengideintifikasi kondisi klien. Pada level satu dikaji pengetahuan dan informasi tentang struktur social dan pandangan dunia terhadap budaya klien. Selanjutnya dibutuhkan informasi tentang bahasa dan lingkungan, teknologi, agama, filosophi dan kebangsaan, sosial struktur, nilai budaya dan kepercayaan, politik, legal sistem, ekonomi dan pendidikan. Pengetahuan ini dibutuhkan dalam rangka mengaplikasikan keperawatan pada klien dalam konteks individu, keluarga, kelompok, comunitas dan institusional (level dua).
Penilaian terhadap nilai kepercayaan, tingkah laku klien, terhadap sistem kesehatan diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan klien dalam rangka merumuskan diagnosa keperawatan (level tiga). Selajutnya setelah ditetapkan suatu diangnosa keperawatan maka disusunlah perencanaan dan implementasi keperawatan (level empat) yang dalam model ini sebagai nursing care decition and action. Sunrise Model secara spesifik tidak menjabarkan evaluasi sebagai suatu bagian khusus. Walaupun demikian teori transcultural nursing makna penting dalam rangka pemenuhan kebutuhan perawatan yang memberikan keuntungan bagi klien.

E. Analisis Teori Transcultural Nursing
Teori trancultural Nursing and ethnonursing care yang dipresentasikan dalam Sunrise Model, selanjutnya teori tersebut oleh Leineger disebut sebagai Cultural Care Diversity and Universality, jika dibahas dengan memperhatikan karakteristik suatu teori dapat kita dapat lihat pada gambaran berikut.
1. Kemampuan teori menghubungkan konsep dalam melihat penomena
Leininger mengembangkan Sunrise Model untuk mendemontrasikan hubungan antara konsep dalam teorinya dengan melihat perbedaan dan persamaan dalam budaya. Pada beberapa bagian teorinya memiliki kesamaan pola pandang dengan teori lain seperti memandang bahwa fokus dari perawatan adalah individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Namun demikian memasukan terminologi “cultural” pada level kedua dalam teorinya merupakan sesuatu yang berbeda dengan teori-teori keperawatan lainnya. Pada level ketiga perbedaan teori ini dapat dilihat dengan memandang folk system (sistem perorangan), sistem profesional dan keperawatan dalam sistem kesehatan. Pada level empat dari model melihat decisions and action sebagai bagian dari model sebenarnya relatif sama dengan beberapa teori keperawatan lainnya namun penggunaan terminologi action kedalam supporting, accommodating or repatterning adalah sesuatu yang spesifik dari teori Leininger.
Teori Transcultural Nursing yang digambarkan dalam Sunrise Model menunjukan bahwa level satu dan dua dari teori memilki banyak kesamaan dengan beberapa teori keperawatan lainnya sedangkan pada level ketiga dan keempat memiliki perbedaan spesifik dan bersifat unik jika dibandingkan dengan teori lainnya.
2. Tingkat Generalisasi Teori
Teori dan model yang dikemukan oleh Leininger relatif tidak sederhana, namun demikian teori ini dapat didemontrasikan dan diaplikasikan sehingga dapat diberikan justifikasi dan pembenaran bagaimana konsep-konsep yang dikemukakan saling berhubungan. Teori ini dikemukakan dengan menampilkan contoh-contoh yang sangat baik sehingga untuk teori ini kemudian dapat digeneralisasi, sehingga konsep-konsep yang dikemukakan dalam teori dapat diaplikasikan pada situasi yang berbeda.
3. Tingkat Kelogisan Teori
Kelogisan teori Leininger adalah pada fokus dari pandangganya dengan melihat bahwa latar belakang budaya klien (individu, keluarga, kelompok, masyarakat) yang berbeda sebagai bagian penting dalam rangka pemberian asuhan keperawatan. Teori ini cukup logis untuk dipahami karena memberi pemahaman yang luas dan komprehensif tentang sistem kesehatan klien. Perbedaan budaya yang ada pada klien dapat dipahami sebagai pengaruh dari beberapa faktor yang saling berhubungan seperti faktor teknologi, agama dan kepercayaan, faktor sosial, politik, ekonomi maupun pendidikan.
4. Testabilitas teori
Teori Cultural care diversity and Universality dikembangkan berdasarkan atas riset kualitatif dan kuantitatif. Selama perkembangan teori banyak studi yang behubungan dengan pengaplikasian teori yang dapat dijadikan sebagai dasar riset. Leininger telah mengembangkan teorinya melalui beberapa hipotesisnya yang telah dipresentasikan yang tentu saja masih memungkinkan untuk diuji.
5. Kemanfaatan Teori bagi Peningkatan Body Of Knowledge
Riset yang berhubungan dengan transkultural nursing memberikan kontribusi yang secara umum bagi pengembangan body of knowledge dari ilmu keperawatan. Beberapa penelitian tentang konsep perawatan dengan memperhatikan budaya telah memberikan arti akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentang perbedaan dan persamaan budaya dalam praktek keperawatan.
6. Kemanfaatan Teori pada Pengembangan Praktek Keperawatan
Teori ini sangat relevan dan dapat diterapkan secara nyata dalam praktek keperawatan, karena teori ini mengemukakan adanya pengaruh perbedaan budaya terhadap perilaku hidup sehat. Dan dalam aplikasinya teori ini sangat relevan dengan penerapan praktek keperawatan komunitas.
7. Konsistensi Teori
Teori Leininger consisten dengan semua teori yang memandang pentingnya pengetahuan klien sebagai seorang yang lebih mengetahui masalahnyanya. Leininger menyampaikan pentingnya pemahaman budaya dalam rangka hubungan perawat klien yang juga sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Imoge King yang menekankan pentingnya persamaan persepsi perawat pasien untuk pencapaian tujuan dan juga sejalan dengan teori Watson yang melihat bahwa aspek caring adalah hal utama dalam pemberian keperawatan.
AHLI TEORI KEPERAWATAN
Margaret A. Newman
Health as Expanding Consciousness.

A. Teori Model Betty Neuman
Konsep utama yang terdapat pada model Neuman, meliputi: stresor, garis pertahanan dan perlawanan, tingkatan pencegahan, lima variabel sistem klien, struktur dasar, intervensi dan rekonstitusi (Fitzpatrick & Whall, 1989)

a. Stressor
Stressor adalah kekuatan lingkungan yang menghasilkan ketegangan dan berpotensial untuk menyebabkan sistem tidak stabil. Neuman mengklasifikasi stressor sebagai berikut :
a. Stressor intrapersonal : terjadi dalam diri individu/keluarga dan berhubungan dengan lingkungan internal. Misalnya : respons autoimmun
b. Stressor interpersonal : yang terjadi pada satu individu/keluarga atau lebih yang memiliki pengaruh pada sistem. Misalnya : ekspektasi peran
c. Stressor ekstrapersonal : juga terjadi diluar lingkup sistem atau individu/keluarga tetapi lebih jauh jaraknya dari sistem dari pada stressor interpersonal. Misalnya : sosial politik.
b. Garis pertahanan dan perlawanan
Garis pertahanan menurut Neuman’s terdiri dari garis pertahanan normal dan garis pertahanan fleksibel. Garis pertahanan normal merupakan lingkaran utuh yang mencerminkan suatu keadaan stabil untuk individu, sistem atau kondisi yang menyertai pengaturan karena adanya stressor yang disebut wellness normal dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan adanya deviasi dari keadaan wellness untuk sistem klien. Selain itu ada berbagai stressor yang dapat menginvasi garis pertahanan normal jika garis pertahanan fleksibelnya tidak dapat melindungi secara adekuat. Jika itu terjadi. maka sistem klien akan bereaksi dengan menampakan adanya gejala ketidakstabilan atau sakit dan akan mengurangi kemampuan sistem untuk mengatasi stressor tambahan. Garis pertahanan normal ini terbentuk dari beberapa variabel dan perilaku seperti pola koping individu, gaya hidup dan tahap perkembangan. Garis pertahanan normal ini merupakan bagian dari garis pertahanan fleksibel.
Garis pertahanan fleksibel berperan memberikan respon awal atau perlindungan pada sistem dari stressor. Garis ini bisa menjauh atau mendekat pada garis pertahanan normal. Bila jarak antara garis pertahanan meningkat maka tingkat proteksipun meningkat. Oleh sebab itu untuk mempertahankan keadaan stabil dari sistem klien, maka perlu melindungi garis pertahanan normal dan bertindak sebagai buffer. Kondisi ini bersifat dinamis dan dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Disamping itu hubungan dari berbagai variabel (fisiologi, psikologis, sosiokultur, perkembangan dan spiritual) dapat mempengaruhi tingkat penggunaan garis pertahanan diri fleksibel terhadap berbagai reaksi terhadap stressor.
Sedangkan garis perlawanan menurut Neuman’s merupakan serangkaian lingkaran putus-putus yang mengelilingi struktur dasar. Artinya garis resisten ini melindungi struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor lingkungan melalui garis normal pertahanan (normal line of defense). Misalnya mekanisme sistem immun tubuh. Jika lines of resistance efektif dalam merespon stressor tersebut, maka sistem depan berkonstitusi, jika tidak efektif maka energi berkurang dan bisa timbul kematian.
c. Tingkatan pencegahan
Tingkatan pencegahan ini membantu memelihara keseimbangan yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tersier.
a. Pencegahan primer
Terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap stressor, meliputi : promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Strateginya mencakup : immunisasi, pendidikan kesehatan, olah raga dan perubahan gaya hidup.
b. Pencegahan sekunder
Meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance, mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan sistem secara optimal dan memelihara energi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung sistem dan intervensi-intervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian.

c. Pencegahan Tersier
Dilakukan setelah sistem ditangani dengan strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat mempertahankan energi. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer.
d. Sistem klien
Model Sistem Neuman merupakan suatu pendekatan sistem yang terbuka dan dinamis terhadap klien yang dikembangkan untuk memberikan suatu kesatuan fokus definisi masalah keperawatan dan pemahaman terbaik dari interaksi klien dengan lingkungannya. Elemen-elemen yang ada dalam sistem terbuka mengalami pertukaran energi informasi dalam organisasi kompleksnya. Stress dan reaksi terhadap stres merupakan komponen dasar dari sistem terbuka. Klien sebagai sistem bisa individu, keluarga, kelompok, komunitas atau sosial issue (Tomey & Alligood, 1998). Klien sebagai suatu sistem memberikan arti bahwa adanya keterkaitan antar aspek yang terdapat dalam sistem tersebut. Kesehatan klien akan dipengaruhi oleh keluarganya, kelompoknya, komunitasnya, bahkan lingkungan sosialnya.
Neuman meyakini bahwa klien adalah sebagai suatu sistem, memiliki lima variabel yang membentuk sistem klien yaitu fisik, psikologis, sosiokultur, perkembangan dan spiritual. Selanjutnya juga dijelaskan oleh Neuman bahwa klien merupakan cerminan secara wholistik dan multidimensional (Fawcett, 2005). Dimana secara wholistik klien dipandang sebagai keseluruhan yang bagian-bagiannya berada dalam suatu interaksi dinamis. Pernyataan tersebut membuktikan bahwa setiap orang itu akan memiliki keunikan masing-masing dalam mempersepsikan dan menanggapi suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari. Perubahan istilah dari Holistik menjadi Wholistik untuk meningkatkan pemahaman terhadap orang secara keseluruhan.
Disamping itu klien atau sistem dapat menangani stressor dengan baik, sehingga sakit atau kematian.tan atau stabilitasasi system. perubazhan dapat mempertahankan kesehatan secara adekuat. Keseimbangan fungsional atau harmonis menjaga keutuhan integritas sistem. Apabila bagian-bagian dari klien berinteraksi secara harmonis, maka akan terwujud jika kebutuhan-kebutuhan sistem telah terpenuhi. Namun apabila terjadi ketidakharmonisan diantara bagian-bagian dari system, hal ini disebabkan karena adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi.

e. Struktur dasar
Struktur dasar berisi seluruh variable untuk mempertahankan hidup dasar yang biasa terdapat pada manusia sesuai karakteristik individu yang unik. Variabel-variabel tersebut yaitu variabel sistem, genetik, dan kekuatan/kelemahan bagian-bagian sistem.
f. Intervensi
Merupakan tindakan-tindakan yang membantu untukmemperolehmeningkatkan dan memelihara sistem keseimbangan, terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tertier.
g. Rekonstitusi
Neuman (1995) mendefinisikan rekonstitusi sebagai peningkatan energi yang terjadi berkaitan dengan tingkat reaksi terhadap stressor. Rekonstitusi dapat dimulai menyertai tindakan terhadap invasi stressor..Rekonstitusi adalah suatu adaptasi terhadap stressor dalam lingkungan internal dan eksternal. Rekonstitusi bisa memperluas normal line defense ke tingkat sebelumnya, menstabilkan sistem pada tingkat yang lebih rendah, dan mengembalikannya pada tingkat semula sebelum sakit. Yang termasuk rekonstitusi adalah faktor-faktor interpersonal, intrapersonal, ekstrapersonal dan lingkungan yang berkaitan dengan variabel fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual.

B. Kajian dan analisis fenomena tersebut dengan mengaitkan pada landasan grand teori yang sesuai
1. Stressor
a. Kondisi yang membawa stres extrapersonal adalah :
• Kondisi pengangguran dari suami sehingga sumber keuangan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
b. Kondisi yang membawa stres interpersonal adalah :
• Harapan ibu terhadap suami sebagai pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga tidak terpenuhi sehingga kondisi ini menimbulkan stres interpersonal.
c. Kondisi yang membawa stres intrapersonal adalah :
• Istri juga hamil pada waktu itu dengan kondisi gizi-nya yang kurang (underweight) dan emosional yang labil (kesedihan dan kemarahan) menciptakan stres intrapersonal.

2. Garis pertahanan dan perlawanan
Kita ketahui, berdasarkan Neuman’s Systems Model, bahwa reaksi terhadap stres akan tergantung pada kekuatan garis pertahanan.
Si ibu, karena kendala keuangan, mengakibatkan penderitaan dengan status gizi buruk. Dia biasanya tidak memiliki cukup tidur karena sifat dari pekerjaannya. Hal ini menimbulkan pelanggaran terhadap garis pertahanannya. Garis normal pertahanannya juga menjadi tidak dapat diandalkan karena sikap tidak peduli terhadap kehamilannya dan kemampuannya juga terpengaruh karena ia terkadang sibuk dengan masalah hubungannya dengan ibu mertua.
Kondisi ini menempatkan tidak hanya klien tapi juga anaknya yang belum lahir di ambang mengembangkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, intervensi kami fokuskan pada mengembalikan stabilitas sistem, dengan membantu sistem klien untuk beradaptasi dengan stres.
3. Tingkatan pencegahan
Dimulai dengan pencegahan primer :
a. Kami mencoba untuk mendidik keluarga mereka pada pentingnya memiliki nutrisi yang baik.
b. Kami menyarankan beberapa pilihan makanan murah tapi bergizi.
c. Kami juga mencoba memberi saran terhadap pekerjaan alternatif yang mungkin tidak akan membahayakan kesehatan pada bayi yang belum lahir.

Untuk pencegahan sekunder :
a. Kami menyarankan agar ibu melakukan pre-natal check-up, dan memanfaatkan layanan yang tersedia di pusat kesehatan terdekat.
Setelah sekitar 1 bulan kunjungan konstan pada keluarga ini, kami benar-benar mendapatkan perbaikan yang nyata dalam kondisi kesehatan mereka. Wanita itu mulai menunjukkan berat badan sesuai dengan usia kehamilan. Pasangan itu juga telah belajar untuk menanam dan makan makanan bergizi seperti buah-buahan dan sayuran.
Suami mulai bekerja sebagai operator produksi di pabrik terdekat, sehingga istrinya dapat beristirahat dari pekerjaan lamanya.

Sebelum tugas kami dimasyarakat berakhir, kami melakukan pencegahan tersier :
• Mendukung dan memuji perubahan perilaku positif yang ditunjukkan oleh pasangan.
• Kami juga memberi penguatan terhadap atribut positif dari keluarga, seperti keteguhan iman mereka kepada Allah, dan pengabdian yang kuat diantara mereka satu sama lain.
Kami belajar dari pengalaman ini bahwa tidak ada masalah yang tak terpecahkan dengan penggunaan asuhan keperawatan yang konsisten.

AHLI TEORI MIDDLE RANGE & PRACTICE THEORIES
TEORI RAMONA T MERCER
Maternal Role Attainment : becoming a mother

Teori ini lebih menekan pada stress antepartum (sebelum melahirkan) dalam pencapaiaan peran ibu, Marcer membagi teorinya menjadi dua pokok bahasan:
1. Efek stress antepartum
2. Pencapaian peran ibu

1. Efek stress Anterpartum
stress Anterpartum adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negative dari hidup seorang wanita, tujuan asuhan yang di berikan adalah : memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidak percayaan ibu. Penilitian Mercer menunjukkan ada enam faktor yang berhubungan dengan status kesehatan ibu, yaitu:
a. Hubungan Interpersonal
b. Peran keluarga
c. Stress anterpartum
d. Dukungan social
e. Rasa percaya diri
f. Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi

Maternal role menurut Mercer adalah bagaimana seorang ibu mendapatkan identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap dengan dirinya sendiri.
2. Pencapaian peran ibu
Peran ibu dapat di capai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran, lebih lanjut mercer menyebutkan tentang stress anterpartum terhadap fungsi keluarga, baik yang positif ataupun yang negative. Bila fungsi keluarganya positif maka ibu hamil dapat mengatasi stress anterpartum, stress anterpartum karena resiko kehamilan dapat mempengaruhi persepsi terhadap status kesehatan, dengan dukungan keluarga dan perawat maka ibu dapat mengurangi atau mengatasi stress anterpartum.
Perubahan yang terjadi pada ibu hamil selama masa kehamilan (Trisemester I, II dan III) merupakan hal yang fisiologis sesuai dengan filosofi asuhan keperawatan bahwa menarche, kehamilan, nifas, dan monopouse merupakan hal yang fisiologis.
Perubahan yang di alami oleh ibu, selama kehamilan terkadang dapat menimbulkan stress anterpartum, sehingga perawat harus memberikan asuhan kepada ibu hamil agar ibu dapat menjalani kehamilannya secara fisiologis (normal), perubahan yang di alami oleh ibu hamil antara lain adalah:
a. Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan bayinya.
b. ibu memerlukan sosialisasi
c. ibu cenderung merasa khawatir terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya
d. Ibu memasuki masa transisi yaitu dari masa menerima kehamilan ke masa menyiapkan kelahiran dan menerima bayinya.

Empat tahapan dalam melaksanakan peran ibu menurut Mercer:
a. Anticipatory
Saat sebelum wanita menjadi ibu, di mana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial dan psikologis dengan mempelajari segala sesuatu yang di butuhkan untuk menjadi seorang ibu.
b. Formal Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran di butuhkan sesuai dengan kondisi system social
c. Informal. Di mana wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya
d. Personal merupakan peran terakhir, di mana wanita telah mahir melakukan perannya sebagai ibu.

Sebagai bahan perbandingan, Reva Rubin menyebutkan peran ibu telah di mulai sejak ibu menginjak kehamilan 6 bulan, tetapi menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi lahir 3-7 bulan setelah dilahirkan.
Wanita dalam menjalankan peran ibu di pengaruhi oleh faktor –faktor sebagai berikut:
a. Faktor ibu
• Umur ibu pada saat melahirkan
• Persepsi ibu pada saat melahirkan pertama kali
• Stress social
• Memisahkan ibu pada anaknya secepatnya
• Dukungan social
• Konsep diri
• Sifat pribadi
• Sikap terhadap membesarkan anak
• Status kesehatan ibu.
b. Faktor bayi
• Temperament
• Kesehatan bayi
c. Faktor-faktor lainnya
• Latar belakang etnik
• Status pekawinan
• Status ekonomi

Dari faktor social support, mercer mengidentifikasikan adanya empat factor pendukung:
a. Emotional support yaitu perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.
b. Informational support
Memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri
c. Physical support
Misalnya dengan membantu merawat bayi dan memberikan tambahan dana
d. Appraisal support
Ini memungkinkan individu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan pencapaiaan peran ibu
Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan, status ekonomi dan konsep diri adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaiaan peran ibu. Peran perawat yang di harapkan oleh Mercer dalam teorinya adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugas dan adaptsi peran dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaiaan peran ini dan kontribusi dari stress antepartum.
Mercer mengidentifikasi bahwa komponen emosional bayi yang mempengaruhi peran ibu adalah:
1. Temperamen bayi
2. Kemampuan memberikan isyarat
3. Penampilan.
4. Karakteristik umum
5. Kesehatan umum.

 Asumsi Mercer berkaitan dengan pengembangan model maternal role attainment ini adalah
 bayi baru lahir sebagai parner yang aktif dalam proses pencapaian peran ibu, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh peran ibu serta pasangan dan bayinya
Wanita dalam menjalankan peran ibu di pengaruhi oleh faktor –faktor berikut:
a. Faktor ibu
1. Umur ibu pada saat melahirkan
2. Persepsi ibu pada saat melahirkan pertama kali
3. Stress sosial
4. Memisahkan ibu pada anak secepatnya
5. Dukungan sosial
6. Konsep diri
7. Sifat pribadi
8. Sikap terhadap membesarkan anak
9. Status kesehatan ibu.

b. Faktor bayi
1. Temperament
2. Kesehatan bayi

Faktor-faktor lainnya

1. Latar belakang etnik
2. Status pekawinan
3. Status ekonomi
Sumber Teori
Model pencapaian peran maternal yang oleh Mercer dengan menggunakan konsep Bronfenbrenner,s (1979) memperlihatkan bagaimana lingkungan berpengaruh terhadap pencapaian peran ibu.
KONSEP UTAMA DAN DEFENISI
Mercer menggunakan konsep-konsep utama dalam mengembangkan model konseptualnya yaitu:
 Pencapaian peran ibu (maternal role attainment)
 Maternal identity
 Self esteem
 Konsep diri
 Fleksibilitas
 Childrearing attitude
 Kecemasan
 Depresi
 Role strain-role conflict (konflik peran)
 Gratification-satisfaction
 Attachment
 Infant temperament
 Status kesehatan bayi (infant health status)
 Karaktersitik bayi (infant characterize)

 Isyarat-isyarat bayi (infant cues)
 Keluarga (family)
 Fungsi keluarga (family functioning)
 Ayah atau pasangan intim (father or intimate partner)
 Stress
 Dukungan sosial (social support)
 Hubungan ibu-ayah (mother-father relationship)

Pencapaian Peran Ibu : Mercer’s Original Model
 Maternal Role Attainmen yang dikemukakan oleh Mercer merupakan sekumpulan siklus microsystem, mesosystem dan macrosystem. Model ini dikembangkan oleh Mercer sejalan pengertian yang dikemukakan Bronfenbrenner’s, yaitu :

1.Mikrosistem
adalah lingkungan dimana peran pencapaian ibu terjadi al:
a. Fungsi keluarga
b. Hubungan ibu-ayah
c. Dukungan sosial
d. Status ekonomi
e. Kepercayaan keluarga dan stressor bayi baru lahir.
2.Mesosistem
meliputi, mempengaruhi dan berinteraksi dengan individu di mikrosistem. Mencakup:
a. Perawatan sehari-hari
b. Sekolah
c. T4 kerja
d. T4 ibadah dan lingkungan yang umum berada dalam masyarakat.
3. Makrosistem
adalah budaya pada lingkungan individu. Makrosistem terdiri atas:
a. Sosial
b. Politik
c. Lingk. Yankes
Maternal Role Attainment adalah proses yang mengikuti 4 tahap penguasaan peran,yaitu:
1. Antisipatory
2. Formal
3. Informal
4. Personal atau Identitas peran yang terjadi
1. Antisipatori
Dimulai selama kehamilan mencakup data sosial, psikologi, penyesuaian selama hamil, harapan ibu terhadap peran, belajar untuk berperan, hubungan dengan janin dalam uterus dan mulai memainkan peran.
2. Formal
tahapan ini dimuai dari kelahiran bayi yang mencakup proses pembelajaran dan pengambilan peran menjadi ibu.

3. Informal
tahap dimulainya perkembangan ibu dengan jalan atau cara khusus yang berhubungan dengan peran yang tidak terbawa dari sistem sosial.

4. Personal
adalah internalisasi wanita terhadap perannya. Pengalaman yang dirasakan harmonis, percaya diri, kemampuan dalam menampilkan perannya dan pencapaian peran ibu.

Menjadi seorang ibu

 Merle H. Mishel : Uncertainty in Illness Trajectory.

 Pamela G. Reed: Self- Transcendence Theory.

MIDDLE RANGE THEORY SELF-TRANCENDENCE
Pamela.G.Reed

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Keperawatan sebagai profesi adalah unik karena keperawatan ditujukan ke berbagai respon individu dan keluarga terhadap masalah kesehatan yang dihadapinya. Perawat memiliki berbagai peran seperti pemberi perawatan, sebagai perawat primer, pengambil keputusan klinik, advokat, peneliti dan pendidik. Perawat seringkali harus melakukan berbagai peran lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan, sehingga dalam menjalankan tugas tersebut perawat harus mempunyai kerangka berpikir yang sama.
Model konseptual keperawatan dikembangkan oleh para ahli keperawatan tentang keperawatan. Model konseptual keperawatan diharapkan dapat menjadi kerangka berpikir perawat. Sehingga perawat perlu memahami beberapa konsep ini sebagai kerangka konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan.
Salah satu ahli dalam keperawatan adalah Pamela G. Reed yang termasuk ke dalam teori Middle Range dengan teorinya self transendensi. Teorinya mengatakan bahwa pengembangan konsep diri dibatasi secara mulitidimensi yaitu Inwardly (batiniah), Outwardly (lahiriah) dan Temporally (duniawi). Berdasarkan teori transendensi diri, terdapat dua poin intervensi. Tindakan keperawatan secara langsung berfokus pada sumber-sumber yang berasal dari dalam diri seseorang terhadap transendensi atau berfokus pada beberapa faktor personal dan kontekstual yang mempengaruhi hubungan antara transendensi diri dan vulnerable, hubungan antar transendensi diri dan keadaan baik/sehat.

2. Tujuan penulisan
1) Tujuan Umum
Secara umum tujuan penulisan makalah ini untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan teori self transedensi oleh Pamela G. Reed.
2) Tujuan khusus :
a. Menjelaskan Teori Self transendensie yang dikembangkan Pamela G.Reed.
b. Menganalisa kelebihan Model konsep dan Teori Self transendensie yang dikembangkan Pamela G.Reed.
c. Menganalisa kekurangan Model konsep dan Teori Self transendensie yang dikembangkan Pamela G.Reed.
d. Menganalisa alasan mengapa teori self transcendence termasuk ke dalam kelompok middle range theory

B. TINJAUAN TEORI
1. Konsep Kunci
1) Vulnerability
Kesadaran seseorang akan adanya kematian. Diartikan sebagai konteks bagi perkembangan atau kematangan di usia senja atau pada akhir kehidupan. Konsep vulnerable meningkatkan kesadaran akan situasi mendekati kematian termasuk di dalamnya adalah keadaan gawat seperti disabilitas, penyakit kronik, kelahiran, dan pengasuhan.
2) Self Transcendence
Bernard Lonergan, filsuf dan teolog, dalam bukunya Method in Theology (1975) menulis bahwa manusia mencapai keotentikannya dalam transendensi diri (self-transcendence). Transendensi diri berarti suatu gerak melampaui apa yang telah dicapai. Suatu gerak dari yang kurang baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebih baik.
Menurut Pamela G Reed, Self Transcendence didefiniskan sebagai pengembangan konsep diri dibatasi secara mulitidimensi yaitu :
 Inwardly (batiniah) : melakukan refleksi introspeksi diri terhadap pengalaman- pengalaman yang telah dialami.
 Outwardly (lahiriah) : tampak dari luar. Diartikan bahwa pentingnya melakukan hubungan dengan dunia luar dalam hal ini berinteraksi dengan lingkungannya.
 Temporally (duniawi) : menggunakan keterampilan atau pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman masa lalu sehingga menjadi pelajaran untuk mencapai tujuan masa depan yang terintegrasi dengan menerapkannya pada masa kini/sekarang.
3) Well-Being
Didefiniskan sebagai perasaan sehat secara menyeluruh baik fisik, psikologis, sosial, budaya dan spiritual yang menunjukkan suatu kesejahteraan dan keadan yang baik.
4) Moderating-Mediating Factors
Variabel kontekstual dan personal dan interaksinya bisa mempengaruhi proses transendensi diri yang berkontribusi terhadap kondisi yang baik. Contoh dari variabel tersebut adalah usia, jenis kelamin, kemamapuan kognitif, pengalaman hidup, persepsi spiritual, lingkungan sosial, dan riwayat masa lalu. Variable kontekstual dan personal dapat memperkuat dan memperlemah hubungan vulnerabilities dan transendensi diri dan antara transendensi diri dan keadaan baik/sejahtera (well being).
5) Point of Intervention
Berdasarkan teori transendensi diri, terdapat dua poin intervensi. Tindakan keperawatan secara langsung berfokus pada sumber-sumber yang berasal dari dalam diri seseorang terhadap transendensi atau berfokus pada beberapa faktor personal dan kontekstual yang mempengaruhi hubungan antara transendensi diri dan vulnerabel ; hubung an antar transendensi diri dan keadaan baik/sehat.

2. Asumsi Mayor
1) Health
Sehat, merupakan awal proses model, yang didefinisikan secara mutlak sebagai proses kehidupan dari dua hal yaitu pengalaman negatif dan positif dimana individu menciptakan lingkungan dan nilai-nilai yang unik yang mendukung kesejahteraan (well- being).
2) Nursing
Peran keperawatan adalah untuk mendampingi orang-orang (persons) (melalui proses interpersonal dan manajemen terapeutik pada lingkungannya) dengan membutuhkan keterampilan untuk mendukung kesehatan (health) dan kesejahteraan (well-being).
3) Person
Person dipahami sebagai perkembangan masa kehidupannya dalam berinteraksi dengan orang lain dan dalam perubahan lingkungan yang kompleks dan bersemangat yang dapat berkontribusi secara positif dan negative terhadap kesehatan dan keadaan baik.
4) Environment
Keluarga, jaringan sosial, lingkungan fisik dan komunitas adalah lingkungan yang secara signifikan berkontribusi pada proses kesehatan dimana perawat mempengaruhinya dengan mengatur interaksi yang terapeutik antara orang-orang, objek dan aktivitas keperawatan.

Health Well-being

Person Self

Enviroment Nursing Pointof intervensi
Skema 1. Penjabaran Teori Reed ke dalam metapardigma

3. Pernyataan Teoritis
Model teori self transcendence mengusulkan tiga macam hubungan :
1) Peningkatan vulnerability dihubungkan dengan peningkatan self transcendence.
2) Self transcendence berhubungan secara positif dengan kesejahteraan (well-being).
3) Faktor-faktor personal dan eksternal bisa mempengaruhi hubungan antara vulnerability dengan self transcendence dan antara self transcendence dan well- being.

Vulnerability + Self-transcendence + Well-Being
+ -
+ -

+ Factor-faktor personal danKontextual yang berhubungan dengan secara media atau hubungan moderate

Point intervensi + – untuk meningkatkan self Transcedence
Skema 2 : Teori Model Self-Trancendence

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa ada tiga konsep utama dari teori self transcendence yaitu vulnerabel, transendens diri, dan kesejahteraan (well-being), dimana terdapat 3 dalil yang berkembang menggunakan tiga konsep dasar tersebut, antara lain :
1) Dalil Pertama, self transcendence merupakan kehebatan seseorang saat menghadapi akhir dari kehidupan dibanding ia tidak mengalaminya. Isu dari akhir kehidupan diinterpretasikan secara luas, dimana timbul dengan adanya kejadian dalam kehidupan, kondisi sakit, penuaan dan pengalaman-pengalaman lain yang meningkatkan kesadaran akan kematian.
2) Dalil yang kedua yaitu batasan-batasan konseptual yang dihubungkan dengan kesejahteraan (well-being). Batasan-batasan konseptual dan fluktuasi yang mempengaruhi secara positif atau negatif kesejahteraan/well being sepanjang masa kehidupan. Misalnya, peningkatan penampilan dan perilaku self transcendence diharapkan berkaitan secara positif dengan kesehatan mental sebagai indicator kesejateraan/well-being pada seseorang yang sedang menghadapi isu akhir dari kehidupan. Contoh khusus tentang pengaruh negative yaitu inabilitas/ketidakmamapuan untuk mencapai atau menerima orang lain (berteman) yang akan mengarah pada depresi sebagai indicator kesehatan mental.
3) Dalil yang ketiga adalah proses person dengan lingkungan. Faktor personal dan lingkungan berfungsi sebagai korelasi, moderator, atau mediator yang menghubungkan antara vulnerable, transendensi diri dan keadaan sejahtera (well being).
4. Teori Self Transcendence Termasuk dalam Kelompok Middle Range Theory

Ciri Middle Range Theory menurut Mc. Kenna h.p. (1997) :
1) Bisa digunakan secara umum pada berbagai situasi
2) Sulit mengaplikasikan konsep ke dalam teori
3) Tanpa indikator pengukuran
4) Masih cukup abstrak
5) Konsep dan proposisi yang terukur
6) Inklusif
7) Memiliki sedikit konsep dan variabel
8) Dalam bentuk yang lebih mudah diuji
9) Memiliki hubungan yang kuat dengan riset dan praktik (Robert Merton (1968))
10) Dapat dikembangkan secara deduktif, retroduktif. Lebih sering secara induktif menggunakan studi kualitatif (Merton (1968)).
11) Mudah diaplikasikan ke dalam praktik, dan bagian yang abstrak merupakan hal ilmiah yang menarik (Walker and Avant (1995)).
12) Middle range theory berfokus pada hal-hal yang menjadi perhatian perawat. Sama halnya dengan nyeri, hal yang lainnya termasuk martabat, empati, harga diri, duka cita, harapan, kenyamanan, dan kualitas hidup.
13) Beberapa di antaranya memiliki dasar dari grand teori, salah satu contohnya adalah : middle range theory dari “self care deficit” diturunkan dari grand theory “self care” oleh Orem (1980).
14) Ada juga mid-range theory yang tumbuh langsung dari praktik. Misalnya, Swansons (1991) mid-range theory tentang “caring in perinatal nursing” dikembangkan secara induktif dari tiga perinatal setting.
15) Chinn and Kramer (1995) menyatakan bahwa ada 8 mid-range theory yaitu teori perawatan mentruasi, teori “family care-giving”, theory of relapse among ex-smokers (kekambuhan di antara mantan perokok), a theory of uncertainty in illness (ketidakpastian saat sakit), a theory of the peri-menopausal process (proses menopause), a theory of self-transcendence, a theory of personal risking and a theory of illness trajectory

Menurut Meleis, A. I. (1997), mid-range theory memiliki cirri-ciri sbb :
1) Ruang lingkup terbatas,
2) Memiliki sedikit abstrak,
3) Membahas fenomena atau konsep yang lebih spesifik, dan
4) Merupakan cerminan praktik (administrasi, klinik, pengajaran)
Menurut Whall (1996), kriteria sebuah mid-range theory yaitu :
1) Konsep dan proposisi spesifik tentang keperawatan
2) Mudah diterapkan
3) Bisa diterapkan pada berbagai situasi
4) Proposisi bisa berada dalam suatu rentang hubungan sebab akibat
Menurut Nolan & Grant (1992), ada dua kriteria sebuah teori bisa diterapkan ke dalam praktik yaitu :
1) Seharusnya relevan dengan potensi pengguna teori tersebut, misalnya perawat.
2) Seharusnya berorientasi pada hasil yang akan diperoleh untuk kepentingan pasien, bukan hanya menggambarkan apa yang dilakukan perawat.
Sedangkan menurut Kolcaba, Seharusnya menggambarkan fenomena keperawatan-sensitif yang siap dihubungkan dengan tindakan keperawatan yang direncanaka

C. TINJAUAN KASUS DAN ANALISA KASUS
1) Kasus
Ny. K, usia 60 tahun memiliki 3 orang anak yang saat ini sudah berusia di atas 30 tahun. Suami Ny. K, baru saja meninggal 7 bulan yang lalu karena menderita penyakit kronis. Pernikahan mereka telah berusia 40 tahun pada saat suaminya meninggal. Dua orang anaknya bertempat tinggal sangat jauh dari rumah Ny. K, Sedangkan seorang anak perempuan bersama dengan suaminya dan dua orang anak, yang satu masih usia pra sekolah dan yang satunya lagi SMP, tinggal tidak jauh dari rumah Ny. K. Selama suaminya sakit, Ny. K sendiri yang merawatnya. Ia menghabiskan banyak waktu dan mengalami kelelahan dalam merawat suaminya, namun setelah suaminya meninggal dia merasa sangat kesepian karena ditinggal seorang diri di rumahnya. Selain itu, dia juga kehilangan selera makan sehingga tidak memiliki kekuatan untuk beraktivitas di luar rumah dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya serta berinteraksi dengan anak dan keluarganya.

2) Analisis Kasus
Berdasarkan kasus di atas, hasil analisa mennunjukkan bahwa ada beberapa masalah yang sedang dihadapi oleh Ny. K yaitu :
1) Ny. K telah berusia lanjut.
2) Respon berduka yang berkepanjangan akibat kematian Suaminya
3) Interaksi dengan lingkungan sosial terganggu
4) Interaksi dengan anggota keluarga terganggu
5) Penurunan selera makan
6) Kelemahan fisik
7) Penurunan aktivitas
8) Merasa kesepian tinggal seorang diri
9) Tinggal terpisah dari anak-anaknya

3) Pembahasan
Teori Pamela.G.Reed menitikberatkan pada konsep self transcendence yang terdiri atas konsep kunci yaitu vulnerabel, transendensi diri, sejahtera/sehat, moderating-mediating factors, dan inti intervensi. Dalam kasus tersebut, berdasarkan teori self transcendence maka yang perlu dilakukan oleh perawat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh Ny. K adalah dengan menerapkan konsep-konsep kunci dari Pamela yaitu :
1) Vurnerabel yaitu meningkatkan kesadaran Ny. K bahwa kematian adalah merupakan hal yang akan dialami oleh setiap orang yang masih hidup dan akan disertai kesedihan serta kedukaan berlanjut sampai berbulan-bulan setelah masa kehilangan tersebut. Bagaimana jika seandainya keadaan menjadi terbalik, pengalaman yang sama terjadi pada dirinya sedangkan Suaminya sendiri yang mengalami hal yang saat ini dia alami, akan sangat berbeda dan bahkan lebih sulit bagi Suaminya untuk menerima hal tersebut. Sehingga, perawat akan membantu Ny. K untuk melakukan refleksi terhadap dirinya dan terhadap pengalaman tersebut. Refleksi dan instrospeksi yang dilakukan oleh Ny. K adalah merupakan inti dari self transcendence.
2) Dari segi inwardly (batiniah), perawat menekankan adanya proses introspeksi terhadap pengalaman masa lalu yang dialami oleh Ny. K yang kemudian dapat menjadi fasilitas memperoleh kepulihan dan kesehatannya kembali. Introspeksi diri bisa meliputi menggali kembali kepercayaan dan keyakinan dalam diri, nilai-nilai pribadi, dan mimpi-mimpi yang ingin dicapai yang nantinya akan menjadi penyemangat atau motivator untuk mencapai kondisi yang sehat secara utuh (well being).
3) Dari segi outwardly (lahiriah), perawat memberikan dorongan untuk memulai kembali hubungannya dengan dunia luar termasuk berinteraksi dengan anak dan keluarganya, lingkungan sosialnya dan kembali beraktivitas serta dapat menikmati masa tuanya dengan penuh kebahagian. Dengan menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya, anak dan menantunya akan lebih membuatnya menikmati kebahagiaan dan kesenangan. Selain itu, dengan cara tersebut, Ny. K akan merasa puas telah membantu anak dan menantunya menjaga anak-anaknya. Bila kebahagiaan dan kesenangan telah terbangun, masalah fisik, nafsu makan, perasaan kesepian, dan perasaan berduka yang dialaminya selama ini berangsur-angsur akan hilang, sehingga Ny. K akan memperoleh kesehatannya kembali
4) Dari segi temporally (duniawi/saat ini), dari hasil refleksi dan introspeksi dari pengalaman masa lalunya, Ny. K bisa menggunakan pengetahuan dan keterampilannya di masa lalu itu untuk mencapai apa yang dia harapkan di masa yang akan datang dengan melakukan/menerapkannya pada masa kini.

Vulnerabel dan transendensi diri di atas akan sangat membantu Ny. K memperoleh keadaan sehat dan sejahtera (well being). Semua komponen tersebut akan berintegrasi dan berproses untuk mencapai suatu kondisi yang baik. Dalam hal ini, di usia senja, Ny. K dapat memperoleh kebahagiaan. Disamping itu, perawat juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara vulnerable dan transendensi diri, hubungan antara transendensi diri dan keadaan sejahtera. Faktor-faktor ini disebut faktor penengah (moderating-mediating factors) seperti usia, jenis kelamin, kemamapuan kognitif, pengalaman hidup, persepsi spiritual, lingkungan sosial dan riwayat masa lalu.
Pada Ny. K banyak dari faktor- faktor tersebut yang bisa memperlemah hubungan-hubungan di atas, seperti usia, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial. Usia Ny. K yang kini telah mencapai 65 tahun, membuat Ny. K mengalami kehilangan banyak kekuatannya terkait dengan penurunan berbagai fungsi tubuh yang dapat menyebabkan ia menjadi kurang bisa melakukan aktivitas lagi di luar rumah yang akan membatasinya dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, lingkungan keluarga yang berada jauh dari tempat tinggalnya membuat interaksinya dengan anak-anaknya menjadi kurang yang mengakibatkan perasaan kesepian dan kurangnya semangat. Sehingga, sebagai seorang perawat perlu mengontrol faktor-faktor tersebut dengan memberikan penguatan pada setiap faktor tersebut sehingga tidak memberi dampak negatif bagi Ny. K. misalnya, dengan memberikan latihan-latihan yang bisa dilakukan Ny. K dalam rangka mempertahankan kebugaran, introspeksi/refleksi diri yang bisa membangun konsep diri Ny. K sehingga akan menjadi faktor yang mendukung tercapainya pemulihan dan kondisi yang sejahtera (well being). Faktor pendukung lainnya bisa berupa adanya penguatan spiritual yang dilakukan oleh Ny. K dengan menjalankan agama dan kepercayaannya serta memahami kematian dengan lebih baik yang akan mengurangi kedukaan yang dialaminya dengan menganggap bahwa suatu saat dia juga akan mengalami hal yang sama sehingga perlunya memperbaiki kondisi hidup saat ini menjadi lebih baik.
Dari beberapa tindakan yang bisa dilakukan oleh perawat dalam menyelesaikan masalah Ny. K, ada dua poin yang secara umum menjadi inti intervensi keperawatan yaitu, menggali sumber-sumber yang ada pada diri Ny. K dan berfokus pada faktor-faktor yang berpengaruh pada hubungan vulnerabel dan transendensi diri; hubungan antara transendensi diri dan kondisi sejahtera.

D. KESIMPULAN
Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa teori memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan yaitu sebagai berikut :
1. Kelebihan
 Baik digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terkait dengan masalah psikososial.
 Faktor spiritual cukup dipertimbangkan dalam penyelesaian masalah klien.
2. Kekurangan
 Banyak variabel dalam teori, seperti vulnerability dan transendensi diri serta kondisi sejahtera yang masih abstrak, sehingga masih terdapat kesulitan diterapkan dalam praktik.
 Pembahasan teori tidak mudah untuk dipahami sehingga sulit dicerna oleh para perawat yang akan mengaplikasikannya ke dalam praktik.
 Terbatas digunakan hanya pada kasus-kasus yang berhubungan dengan adanya masalah psikologis dengan kurang mempertimbangkan penangan fisiknya.
3. Teori self transcendence termasuk dalam kelompok mid-range theory karena memiliki kriteria : konsep dan variabel sedikit, sebahagian masih bersifat abstrak, dapat digunakan dalam berbagai situasi dan kondisi kesehatan manusia, bersumber dari grand theory dan pengalaman-pengalaman praktik, dan berfokus pada fenomena yang lebih spesifik.
4. Ketidakjelasan dan keabstrakan teori self transcendence dapat menjadi pemicu dilakukannya penelitian-penelitian yang bisa menjadi bahan perbaikan bagi teori tersebut.

SKENARIO

Narator : Ns. Arsad Suni
Perawat : Ns. Nurlina
Pasien Ny. K (Nenek) : Ns.St. Khaeruni
Anak I : Ns. Adam Ns.
Anak III : Ns. Fatimah
Cucu : Ns. Mardiah

Narator : Ny. K, usia 60 tahun memiliki 3 orang anak yang saat ini sudah berusia di atas 30 tahun. Suami Ny. K, baru saja meninggal 7 bulan yang lalu karena menderita penyakit kronis. Pernikahan mereka telah berusia 40 tahun pada saat suaminya meninggal. Dua orang anaknya bertempat tinggal sangat jauh dari rumah Ny. K, Sedangkan seorang anak perempuan bersama dengan suaminya dan dua orang anak, yang satu masih usia pra sekolah dan yang satunya lagi SMP, tinggal tidak jauh dari rumah Ny. K. Selama suaminya sakit, Ny. K sendiri yang merawatnya. Ia menghabiskan banyak waktu dan mengalami kelelahan dalam merawat suaminya, namun setelah suaminya meninggal dia merasa sangat kesepian karena ditinggal seorang diri di rumahnya. Selain itu, dia juga kehilangan selera makan sehingga tidak memiliki kekuatan untuk beraktivitas di luar rumah dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya serta berinteraksi dengan anak dan keluarganya.

Narator: Berdasarkan kasus di atas, hasil analisa mennunjukkan bahwa ada beberapa masalah yang sedang dihadapi oleh Ny. K yaitu :
 Ny. K telah berusia lanjut.
 Respon berduka yang berkepanjangan akibat kematian suaminya
 Interaksi dengan anggota keluarga dan lingkungan sosial terganggu
 Penurunan selera makan
 Kelemahan fisik
 Penurunan aktivitas
 Merasa kesepian tinggal seorang diri karena terpisah dari anak-anaknya
Narator : Dari beberapa masalah dalam kasus tersebut diatas terungkap ketika anak III bersama cucunya Ny. K berkunjung ke rumah emaknya dengan membawakan makanan kesukaannya. Saat tiba disana, anak III melihat rumahnya seperti tidak ada penghuninya, salam juga tidak ada jawabannya. Dengan perasaan cemas anak III bersama cucunya Ny. K memanggil-manggil neneknya, juga tidak ada suara menyahut sama sekali. Kemudian mereka mencari dan mencoba menengok ke kamar ternyata mamanya tampaknya duduk termenung di kamar tidurnya. Melihat kondisi seperti itu, anak III dan cucu Ny. K segera masuk ke kamar neneknya dan diajak bicara, tetapi Ny. K tidak mau diajak ngomong, bahkan mengajak Ny. K untuk tinggal bersama mereka. Namum ajakan tersebut tidak membuahkan hasil karena Ny. K tidak pernah mengucapkan satau katapun. Dengan perasaan cemas pula karena tidak berhasil membujuk Ny. K tinggal bersama mereka, akhirnya anak III bersama cucu Ny. K pamit pulang ke rumah mereka.
Bagaimana selengkapnya?, mari kita saksikan pertujukannya………!

Segmen I

Anak III : Assalamualikum ………, mama ………. mama……….., dimanaki ? (sang mama tidak menjawab
Cucu : Nenek oh nenek, dimanaki ? (Neneknya tetap tidak menjawab paggilan cucunya)
Anak III : Oh disiniki pale mama, mama, ini makanan kesukaan mama saya bawakanki, makanki dulu na…. (Sang mama tidak berespon)
Cucu : Iye nek, makan meki dulu, nanti tambah kuruski (nenek tetap terdiam)
Anak III : Kanapaki mama setiap saya datang, pasti duduk teruski di kamar? Ah pasti mi itu kita terlalu banyak berpikirki !
Ny. K : Kuingatki kodong bapakmu nak (sambil berlinang air matanya)
Anak III : Astagfirullah mama, jangan meki ingat-ingat terus bapak kah, itu semua sudah kehendak Allah, semua orang juga pasti kesana tapi tudak tahu kapan waktunya. Yang perlu kita lakukan sekarang tu harus banyak-banyak meki berdoa, suapaya bapak juga merasa tenang disana.
Cucu : Iye nek, betul apa yang dikatakan mama tadi, kata ustadzku, orang beriman itu harus selalau sabar menghadapi ujian dari Allah. Nah, bagaimana kalau sekarang nenek ikut tinggal bersama saya dan mama dirumah saja, biar nenek tidak merasa kesepian lagi. Saya pasti senang dech kalau setiap pulang sekolah selalu ketemu nenek di rumahku( sang cucu mencoba membujuk neneknya tinggal bersama)
Anak III : Iye, benar…benar, sebaiknya mama sekarang tinggak bersama kami saja, bagaimana mama..?
Ny. K : Tidak usahmi nak, biar disini saja (sambil Ny. K meninggalkan anak dan cucunya, pindah duduk di tempat lain)
Anak III : Ma, kalau begitu saya pulang dulu, jangki lupa makan dih, nanti besok saya
& Cucu datang lagi, (sambung cucunya) iye nek, saya juga pulang, mau kah sekolah,
Ass…………

Segmen II
Narator : Setibanya di rumah, anak III langsung meminta bantuan anak I sebagai anak tertua melalui telpon genggamnya, untuk mencari solusi menyelesaikan masalah yang sedang dialami mama mereka.
Bagaimana percakapan anak III dan anak I?, mari kita ikuti selanjutnya………!

Anak III : Assalamualikum kaka……….., bagaimana kabarta……………?
Anak I : Waalakumussalam, Alhamdulillah baik-baik ji, bagaimanami keadaan disitu? Trus bagaimana kabarnya mama ?
Anak III : Itumi kak saya telponki, kak mama kodong, tinggal terusmi dikamar, tidak mauki makan, tidak mauki keluar rumah, apalagi kalau diajak ngomong tidak mauki menjawab
Anak I : Kenapa dek, bisa begitu mama…?
Anak III : Itu semenjak bapak tidak ada, mama terlihat berubah sekali kak, jadi bagaimanami ini kak ?
Anak I : Bagaimana kalau kita bawami saja ke Pantai Jompo ?
Anak III : Tegata itu kak, mama ditinggal disana? Nanti dibilang anak tidak tahu berbalas budi ka lagi
Anak I : Bukan begitu maksudku, kalau di Panti Jompo kan banyak teman-teman seusianya, trus selalu ada kegiatan-kegiatan yang diikutkanki, sehingga mama nati tidak selalu merasa kesepian.
Anak III : atau beginimi kak, bagaimana kalau saya bawami konsultasi ke Puskesmas dih?
Anak I : Oh iye pale begitumi saja, salam untuk mama nah…., Assalamualikum……
Anak III : Waalaikumussalam ………………………………

Segmen III
Narator : Sesuai kesepakatan anak III dan anak I melalui telpon tadi, maka esok harinya anak III kembali ke rumah mamanya untuk mencoba mengajak mamanya ke Puskesmas terdekat dengan maksud berkonsultasi, namun lagi-lagi ajakan itu pun tidak berhasil. Akhirnya sang anak III tadi berinisiatif untuk meminta bantuan Perawat yang bertugas di Puskesmas tersebut, dan dengan perasaan sedikit lega ketika anak III menemui Perawat Nurlina (Ns. Lina) karena sudah lama sering berkonsultasi dengan Ns. Lina. Selanjutnya terjadilah proses konsultasi di ruangan kerja Ns. Lina.
Bagaimana proses selanjutnya ?, mari kita saksikan bersama……………!

Fatimah : Assalamualaikum………. suter Lina
Ns Lina : Waalaikumussalam, eh…. bu Fatimah, Pagi-pagi sekali sudahmi datang, bagaimana kabarta? Ada yang bisa saya bantu?
Fatimah : Maaf, tidak mengganguki suster Lina?
Ns Lina : Ah tidak ji…., ayo masuk meki dulu? Silahkan duduk
Fatimah : Begini suster, itu mamaku semenjak meninggalki bapakku, berubah sekalimi kehidupannya, jadi pendiamki, tidak mauki makan, duduk terusji di kamar diam-diam, karena bingungma ka liat kondisi mamaku, makanya kutelpon kakaku, minta bagaimanami pendapatnya supaya mama bisa berubah seperti dulu. Terus na bilangin kakakku bawami saja ke Puskesmas, atas saran itu sudahmi kuajak kesini mamaku, tatapki juga tidak mau, makanya saya sendirimi langsung kesini. Bagaimana mi itu suster ? mau ka minta bantu suster Lina ke rumah, bisa tidak kita ikut ke rumah mamaku sekarang ?
Ns Lina : Ohhh begitu dih ceritanya, iye bisa ji, kebetulan belum ada pasien sekarang, mari bu Fatimah, kita kerumah mamata sekarang (Ns. Lina dan Anak III meninggalkan Puskesmas menuju rumah Ny. K).

Segmen IV
Narator : Dari hasil wawancara dengan anak III, Ns. Lina pun segera berespon langsung bersama anak III berkunjung ke rumah Ny. K untuk mencoba memberi pertolongan.
Apakah upaya Ns. Lina berhasil menyelesaikan masalah Ny. K?, mari kita saksikan setelah pariwara yang satu ini ……………!

Anak III : Ass…. (sambil mengajak Ns. Lina masuk di kamar mamanya), mama, ini suster Lina
Ns Lina : Ass….. bu….
Ny. K : Eh suster lina, Waalaikumussalam, masukki.
Ns Lina : Bagaimana kabarta….?, sakitki?
Ny. K : Begini suster, sebenarnya saya baik-baik saja, tapi itumi hidupku seperti tidak punya keluarga (terasa sepi), apalagi setelah meninggal bapaknya, jarangmi kesini anak-anakku.
Ns Lina : Ohh…. begitu masalahnya, tapi benar tidak sakitki to?
Ny. K : Tidak suster, sepertimi suster lihatki to?. Oh iya suster, sampai lupaki, kubikinkan teh suster!
Ns Lina : Tidak usahmi, saya sudah sarapan baru ke Puskesmas?, nah, sekarang agar ibu tidak merasa sepi, tinggal maki bersama anakta fatimah?, biar bisa bermain-main sama cucuta.
Ny. K : Kasian kodong rumahku suster, tidak ada yang urus, jadi biar disinimi saja, asal mereka sering bawakan cucu-cucuku bermain disisni.
Ns Lina : Ohh..begitu ya bu, apa kegiatanta sekarang, masih sukaki bikin-bikin kue?
Ny. K : Tidakmi suster.
Ns Lina : Itumi bu, harus ada kegiatanta, misalnya ikut-ikutmi pengajian, apalagi saya lihatmi disisni aktif sekali ibu-ibu melakukan pengajian setiap hari kamis sore, ohh..iya, ibu juga bisa ikut kegiatan di Posyandu Lansia, kebetulan saya juga sering ikut melati senam disana.
Ny. K : Ohh..ya, begitu ya suster, setiap hari apa itu suster orang senam disana?
Ns Lina : Setiap hari Jumar pagi, ikut maki bu! Bagus kalau ikutki bu, disana juga banyak teman yang bisa kita ajak bicara
Ny. K : Iye suster Lina, maaf sudah bikin repotki pagi-pag begini
Ns Lina : Nah, sudahmi to, Ima ingatki sering jenguk-jenguk mamata dik, kalau perlu nginapki sekali-sekali dirumah mamata, sekarang saya mau kembali dulu ke Puskesmas, mungkin sudah ada pasien yang menunggu. Jangki lupa kasi ingat mamata ikut posyandu lansia setiap hari Jumat.
Anak III : Iye suster, untung kita datang, kalau tidak pusing kepalaku, bagaimana mengatasi masalahnya mamaku, terima kasih banyak suster, jangki bosan-bosan kalau saya minta tolongki lagi
Ns Lina : Insya Allah tidak ji, ayo saya pamit dulu nah, Ass………………………..
Anak III : Nah, sekarang mama main-main sama cucuta disini, saya mau ke pasar dulu, saya mau masak makanan kesukaan mama disini, dan kita makan sama-sama, bagaimana menurut mama???
Ny. K : Iye, senang sekali hari ini, biar bermain-main bersama cucuku sambil menunggu kamu pulang dari pasar.

Narator : Demikianlah tadi ”Role Play” dari kelompok satu, yang menggambarkan penerapan Midle Rang Teori oleh Pamela G Reed pada kasus pasien masalah ”Berduka Disfungsional”, dimana Ny. K. merasa kehilangan anggota keluarga dan kesepian setelah minggal suaminya 7 bulan yang lalu. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Saran, masukan dan kritikan sangat kami harapkan demi perbaikan kita bersama, ……… Wassalam…………………

DAFTAR PUSTAKA

Tomey and Alligood. Nursing theorists and their work. Sixth edition. Mosby : Elsevier. 2006.

Tomey and Alligood. Nursing theoriest, utilization and application. Mosby : Elsevier. 2006.

Sarah Wall. 1995. Nurses’ Engagement with Feminist/Poststructuralist Theory : Im Possibility,
Fear, and Hope. 13 November 2008.http://w w w .thirds pac e.ca/ journal /art icle /view Fil e/w al l/183

Kaiser, Leland R. What is self transcendence. 08 November 2008. http://www.kaiser.net/seriesdetail.cfm?article_id=457

Saur, Wilhelmus. 2002. “Self-Transcendence”, Sebuah Pencarian Keotentikan Diri. 8 November 2008.___
_____.
McKenna H.P. (1997). Nursing Models and Theories. 18 November 2008.

http://www.sandiego.edu/ACADEMICS/nursing/theory/midrange/midrange.htm

GRAND TEORY KEPERAWATAN
IMOGENE M. KING

OLEH ;
KELOMPOK III
1. DARDIN
2. JUNAIDI
3. IKRAM BAUK
4. ELIATI PATURUNGI
5. GRACE TEDY TULAK
6. GRACIA HERNI PERTIWI
7. INDRA GAFFAR

PROGRAM ALIANSI MAGISTER KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA – UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2011

1. Pengertian Grand Teory
a. Grand Teory Keperawatan adalah pemaknaan perilaku dengan cara yang benar secara universal. Grand teory memiliki kemampuan untuk menyatukan semua pengetahuan yang kita miliki mengenai komunikasi menjadi sebuah kerangka teory (West, R & Turner,L.H, 46 – 47)
b. Suatu Grand Teory terdiri dari suatu kerangka konseptual global yang menggambarkan perspektif luas untuk praktik dan termasuk cara yang berbeda mengamati fenomena keperawatan berdasar pada perspektif-perspektif tersebut (Tomey & Alligood, 2006)
c. Konseptual model dan Grand Teory mempunyai ciri-ciri :
1) Cakupannya luas dan kompleks
2) Merupakan rumusan teoritis pada tingkat abstraksi yang sangat umum
3) Sering dijumpai kesulitan dalam mengaitkan suatu rumusan dengan realita
4) Membedakan disiplin ilmu keperawatan dengan ilmu medis, dapat membantu perawat dalam menemukan dan mencapai tujuan perawatan

2. Filosofi teory memproyeksikan sebuah pandangan sistematis atas fenomena-fenomena yang masih bersifat abstrak dalam menjelaskan suatu konsep keilmuwan keperawatan. Sedangkan Grand teory menggabungkan pengetahuan menjadi suatu kerangka teory dalam menjelaskan suatu fenomena keperawatan

Penerapan Grand Teory Keperawatan menurut para ahli :
2. Imogene M. King
c. Fokus teory Imogene M. King adalah Human Being dengan prinsip Goal Attainment ( Pencapaian tujuan ) yang berfokus pada system interpersonal.
d. Konsep teory Imogene M.King terdiri :
 Interaksi
King mendefenisikan interaksi sebagai suatu proses dari persepsi dan komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan lingkungan yang dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal dalam mencapai tujuan.
 Persepsi
Diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realita, persepsi berhubungan dengan pengalaman yang lalu, konsep diri, sosial ekonomi, genetika dan latar belakang pendidikan.
 Komunikasi
Diartikan sebagai suatu proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
 Transaksi
Sebagai interaksi yang mempunyai maksud tertentu dalam pencapaian tujuan. Yang termasuk dalam transaksi adalah pengamatan perilaku dari interaksi manusia dengan lingkungannya.
 Peran
Merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari posisi pekerjaannya dalam sistem sosial. Tolok ukurnya adalah hak dan kewajiban sesuai dengan posisinya. Jika terjadi konflik dan kebingungan peran maka akan mengurangi efektifitas pelayanan keperawatan.
 Stress
Diartikan sebagai suatu keadaan dinamis yang terjadi akibat interaksi manusia dengan lingkungannya. Stress melibatkan pertukaran energi dan informasi antara manusia dengan lingkungannya untuk keseimbangan dan mengontrol stressor.
 Pertumbuhan dan perkembangan
Perubahan yang kontinue dalam diri individu. Tumbuh kembang mencakup sel, molekul dan tingkat aktivitas perilaku yang kondusif untuk membantu individu mencapai kematangan.
 Waktu
Diartikan sebagai urutan dari kejadian/peristiwa ke masa yang akan datang. Waktu adalah perputaran antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sebagai pengalaman yang unik dari setiap manusia.
 Ruang
Sebagai suatu hal yang ada dimanapun sama. Ruang adalah area dimana terjadi interaksi antara perawat dengan klien.
 Jarak
Jarak secara fisik berhubungan dengan batas wilayah yang memiliki kebijakan masing-masing, kadang dapat diidentifikasi dari perilaku individu untuk memperlihatkan batasan wilayah tersebut.

e. King mengidentifikasi sistem yang dinamis dalam tiga sistem interaksi yang dikenal dengan Dynamic Interacting Systems, meliputi: Personal systems (individuals), interpersonal systems (groups) dan social systems (keluarga, sekolah, industri, organisasi sosial, sistem pelayanan kesehatan, dll) , dapat dilihat pada skema berikut ini :
Dynamic Interacting Systems

a) Sistem personal adalah individu atau klien yang dilihat sebagai sistem terbuka, mampu berinteraksi, mengubah energi, dan informasi dengan lingkungannya. Individu merupakan anggota masyarakat, mempunyai perasaan, rasional, dan kemampuan dalam bereaksi, menerima, mengontrol, mempunyai maksud-maksud tertentu sesuai dengan hak dan respon yang dimilikinya serta berorientasi pada tindakan dan waktu.
Sistem personal dapat dipahami dengan memperhatikan konsep yang berinteraksi yaitu:
 Persepsi diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realita, persepsi berhubungan dengan pengalaman yang lalu, konsep diri, sosial ekonomi, genetika dan latar belakang pendidikan.
 Diri adalah bagian dalam diri seseorang yang berisi benda-benda dan orang lain. Diri adalah individu atau bila seseorang berkata “AKU”. Karakteristik diri adalah individu yang dinamis, system terbuka dan orientasi pada tujuan.
 Pertumbuhan dan perkembangan :
Tumbuh kembang meliputi perubahan sel, molekul dan perilaku manusia. Perubah ini biasanya terjadi dengan cara yang tertib, dan dapat diprediksikan walaupun individu itu bervariasi, dan sumbangan fungsi genetic, pengalaman yang berarti dan memuaskan. Tumbuh kembang dapat didefinisikan sebagai proses diseluruh kehidupan seseorang dimana dia bergerak dari potensial untuk mencapai aktualisasi diri.
 waktu
Diartikan sebagai urutan dari kejadian/peristiwa ke masa yang akan datang. Waktu adalah perputaran antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sebagai pengalaman yang unik dari setiap manusia.
 Ruang
Sebagai suatu hal yang ada dimanapun sama. Ruang adalah area dimana terjadi interaksi antara perawat dengan klien.
 Jarak : Jarak secara fisik berhubungan dengan batas wilayah yang memiliki kebijakan masing-masing, kadang dapat diidentifikasi dari perilaku individu untuk memperlihatkan batasan wilayah tersebut.

b) Sistem interpersonal adalah dua atau lebih individu atau grup yang berinteraksi. Interaksi ini dapat dipahami dengan melihat lebih jauh konsep tentang peran, interaksi, komunikasi, transaksi, stress, koping.
 Peran : Merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari posisi pekerjaannya dalam sistem sosial. Tolok ukurnya adalah hak dan kewajiban sesuai dengan posisinya. Jika terjadi konflik dan kebingungan peran maka akan mengurangi efektifitas pelayanan keperawatan.
 Interaksi : King mendefenisikan interaksi sebagai suatu proses dari persepsi dan komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan lingkungan yang dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal dalam mencapai tujuan.
Komunikasi : Diartikan sebagai suatu proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
 Transaksi : Sebagai interaksi yang mempunyai maksud tertentu dalam pencapaian tujuan. Yang termasuk dalam transaksi adalah pengamatan perilaku dari interaksi manusia dengan lingkungannya.
 Stress : Diartikan sebagai suatu keadaan dinamis yang terjadi akibat interaksi manusia dengan lingkungannya. Stress melibatkan pertukaran energi dan informasi antara manusia dengan lingkungannya untuk keseimbangan dan mengontrol stressor.
 Koping :

c) Sistem sosial merupakan sistem dinamis yang akan menjaga keselamatan lingkungan. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat, interaksi, persepsi, dan kesehatan. Sistem sosial dapat mengantarkan organisasi kesehatan dengan memahami konsep organisasi, otoritas/wewenang , kekuasaan, status dan pengambilan keputusan.
 Organisasi ;
Organisasi bercirikan struktur posisi yang berurutan dan aktifitas yang berhubungan dengan pengaturan formal dan informal seseorang dan kelompok untuk mencapai tujuan personal atau organisasi.
 Otoritas ;
King mendefinisikan otoritas atau wewenang, bahwa wewenang itu aktif, proses transaksi yang timbal balik dimana latar belakang, persepsi, nilai-nilai dari pemegang mempengaruhi definisi, validasi dan penerimaan posisi di dalam organisasi berhubungan dengan wewenang.
 Kekuasaan
Kekuasaan adalah universal, situasional, atau bukan sumbangan personal, esensial dalam organisasi, dibatasi oleh sumber-sumber dalam suatu situasi, dinamis dan orientasi pada tujuan.
 Pembuatan keputusan
Pembuatan atau pengambilan keputusan bercirikan untuk mengatur setiap kehidupan dan pekerjaan, orang, universal, individual, personal, subjektif, situasional, proses yang terus menerus, dan berorientasi pada tujuan.

 Status
Status bercirikan situasional, posisi ketergantungan, dapat diubah. King mendefinisikan status sebagai posisi seseorang didalam kelompok atau kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain di dalam organisasi dan mengenali bahwa status berhubungan dengan hak-hak istimewa, tugas-tugas, dan kewajiban.

f. Asumsi King
King mengasumsikan model konsep dan teori keperawatan secara eksplisit maupun implisit.
Asumsi eksplisit meliputi :
 Focus sentral dari keperawatan adalah interaksi dari manusia dan lingkungannya, dengan tujuan untuk kesehatan manusia
 Individu adalah social, mengirim, rasional, reaksi, penerimaan, control, berorientasi pada kegiatan waktu.
 Proses interaksi dipengaruhi oleh persepsi, tujuan, kebutuhan, dan nilai klien serta perawat.
 Manusia sebagai pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi, berpartisipasi dalam membuat keputusan yng mempengaruhi kehidupannya, kesehatan, dan pelayanan komunitas dan menerima atau menolak keperawatan.
 Tanggung jawab dari anggota tim kesehatan adalah memberikan informasi kepada individu tentang semua aspek kesehatan untuk membantu mereka membuat atau mengambil keputusan.
 Tujuan dari memberi pelayanan kesehatan dan menerima pelayanan mungkin tidak sama.

Sedangkan asumsi implicit meliputi :
5. Pasien ingin berpartisipasi secara aktif dalam proses keperawatan.
6. Pasien sadar, aktif, dan secara kognitif mampu berpartisipasi dalam pembuatan atau pengambilan keputusan.
7. Individu mempunyai hak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri.
8. Individu mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan kesehatan.

g. Pandangan King terhadap keperawatan
Konsep Manusia
King memandang manusia sebagai suatu system terbuka yang berinteraksi dengan lingkungan yang memungkinkan benda, energi, dan informasi dengan leluasa mempengaruhinya. Dalam kerangka konsepnya meliputi tiga system interaksi yang dinamis sebagai individu disebut sebagai system personal, ketika individu ini bersatu dalam kelompok disebut system interpersonal. System social tercipta ketika kelompok mempunyai ketertarikan dan tujuan yang sama dalam satu komunitas atau masyarakat.
Konsep Lingkungan
Menurut King lingkungan adalah system social yang ada dalam masyarakat yang saling berinteraksi dengan system lainnya secara terbuka. Lingkungan merupakan suatu system terbuka yang menunjukkan pertukaran masalah, energi, informasi dengan keberadaan manusia. Manusia tersebut akan berinteraksi dengan lingkungan internal dengan penukaran energi yang diatur secara terus menerus terhadap perubahan lingkungan eksternal.

Konsep Sehat
King mendefinisikan sehat sebagai pengalaman hidup manusia yang dinamis, yang secara berkelanjutan melakukan penyesuaian terhadap stressor internal dan eksternal melewati rentang sehat sakit, dengan menggunakan sumber- sumber yang dimiliki oleh seseorang atau individu untuk mencapai kehidupan sehari- sehari yamg maksimal.
Konsep Keperawatan
King menyampaikan pola intervensi keperawatannya adalah proses interaksi klien dan perawat meliputi komunikasi dan persepsi yang menimbulkan aksi, reaksi, dan jika ada gangguan, menetapkan tujuan dengan maksud tercapainya suatu persetujuan dan membuat transaksi.

3. Menurut Orem’s
1) Fokus teorinya adalah Practise self care kemudian Dorotea mengembangkan teorinya menjadi self care deficit dan teory nursing system yang berpandangan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dalam memenuhi kemampuan dasarnya secara mandiri.
2) Konsep utamanya : kebutuhan dasar manusia yang terdiri dari
 Air (udara) : pemeliharaan dalam pengambilan udara
 Water (Air)
 Food (makanan)
 Eliminasi
 Rest and activity
 Solutitue and social interaction
 Hazard frekuention (pencegahan resiko)
 Promotion of normality

4. Levine
1) Model Konservasi Levine difokuskan dalam mempromosikan keseluruhan adaptasi dan pemeliharaan dengan menggunakan prinsip-prinsip konservasi. Model Levine menekankan pada Proses interaksi dan intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk peningkatan kemampuan beradaptasi dan mempertahankan keutuhan tersebut. Tindakan keperawatan berdasar pada empat prinsip yaitu konservasi energy, konservasi integritas structural, konservasi integritas personal dan konservasi integritas social.
2) Konsep utamanya adalah
 Conservation
Cara yang kompleks untuk melakukan fungsinya pada saat tantangan berat menghalanginya. Dalam hal ini individu mampu berkonfrontasi dan beradaptasi demi mempertahankan keunikan mereka.
 Adaptation
• Proses dimana klien memelihara integritas di dalam lingkungan yang nyata baik internal maupun eksternal.
• Konsekuensi dari interaksi antara orang dengan lingkungan, keberhasilan dalam menghadapi lingkungan tergantung dari adekuatnya adaptasi
• Tujuan utama dalam proses adaptasi adalah tercapainya suatu kebutuhan dalam diri individu
• 3 karakteristik dari adaptasi adalah : historicity, spesifity dan redundancy
 Wholeness
Merupakan system terbuka dan menggabungkan bagian-bagian untuk sebuah keutuhan dalam menghadapi perubahan lingkungan.

3. Fenomena Keperawatan dikaitkan dengan Teory Imogine King
Ny. D, berusia 29 tahun masuk ke unit keperawatan onkologi dengan keluhan nyeri pelvic dan pengeluaran cairan pervagina. Hasil pemeriksaaan Pap Smear didapatkan menderita Ca Cerviks stadium II dan telah mengalami Histerektomy radikal dengan bilateral salpingo-oophorectomy.
Riwayat kesehatan masa lalu : jarang melakukan pemeriksaan fisik secara teratur. Ny D mengatakan bahwa tidak pernah melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Tinggi badan 5 kaki 4 inci dan BB 89 pound. Biasanya dia memiliki BB 110 pound. Dia seorang perokok dan menghabiskan kurang lebih 2 pak sehari dan berlangsung selama 16 tahun. Dia sudah memiliki 2 orang anak. Kehamilan pertama ketika dia berusia 16 tahun dan kehamilan yang kedua saat berusia 18 tahun. Sejak saat itu dia menggunakan kontrasepsi oral secara teratur. Dia menikah dan tinggal dengan suaminya bersama 2 orang anaknya dirumah ibunya, dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Suaminya seorang pengangguran. Dia menggambarkan suaminya seorang yang emosional dan kasar.
Ny D telah mengikuti pembedahan dengan baik kecuali satu hal dia belum mampu mengosongkan kandung kemihnya. Dia masih merasakan nyeri dan mual post operasi. Hal itu mengharuskan dia untuk menggunakan kateter intermitten di rumah. Obat yang digunakan adalah antibiotic, analgetik untuk nyeri dan antiemetic untuk mualnya. Sebagai tambahan, dia akan mendapatkan terapi radiasi sebagai pengobatan rawat jalan.
Ny D sangat sedih. Dia menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap masa depannya dan kedua anaknya. Dia percaya bahwa penyakit ini adalah sebuah hukuman akibat masa lalunya.
4. Pengkajian dan analisa fenomena
Pada model konseptual system King, Ny D sebagai konsep personal system yang saling berinteraksi dengan system lain. Banyak hal yang saling mempengaruhi perilaku dan kesehatannya. Diagnosa dari servikal kanker kelas V dan pengobatan berikutnya, keduanya merupakan stressor utama juga berpengaruh untuk kesehatannya. Interaksi bersama Ny D dan perawat, komunikasi, bersama-sama menentukan tujuan dan membuat keputusan tentang maksud pencapaian tujuan.
Perawatan Ny D dimulai dengan pengkajian termasuk pengumpulan data, interpretasi dan verifikasi data. Sumber datanya dirinya sendiri dan persepsi utama tentang dirinya dan sikapnya dan pengalamannya kemudian pengetahuan sebagai konsep dalam kerangka kerjanya, ketrampilan berpikir kritis, kemampuan dalam menggunakan proses keperawatan, pengetahuan tentang pengobatan dan diagnosis, pengobatan dan prognosis cancer dengan stadium V. Perawatan pada Ny D sudah mencakup praktek keperawatan keseluruhan, yang mencakup promosi kesehatan, pemulihan kesehatan, merawat orang sakit dan perawatan pasien terminal (King, 1981).
Perawat dalam situasi ini, dimulai dengan interpersonal system dengan Ny.D. Proses transaksinya dimulai dengan persepsi, pertimbangan, mental action, dan reaksi kedua individu. Pengkajian perawat dan aplikasi pengetahuan tentang konsep dan proses. Meskipun semua konsep King dalam kerangka kerjanya sepertinya akan mengkontribusi dalam perawatan Ny D, konsep kritikal terdiri dari persepsi, diri sendiri, koping, interaksi, model, stress, power dan pengambilan keputusan.
Beberapa persepsi perawat didasarkan atas beberapa kumpulan dan interpretasi informasi. Persepsi Ny D yang lalu, sekarang dan yang akan datang mempengaruhi respon verbal dan nonverbal. Persepsi yang akurat penting dalam proses interaksi, validasi dengan persepsi Ny D dan interpretasi pada persepsi Ny D. Persepsi Ny.D mungkin mempengaruhi tingkat emosional, stress dan nyeri. Persepsi perawat dipengaruhi oleh budaya, status social ekonomi, usia dan pengetahuan (pengobatan dan diagnose Ny D) dan keterampilan yang professional.
Menurut King 1881, diri adalah konsep utamanya termasuk total subyektif, sifat, nilai, pengalaman, komitmen dan kesadaraan individu. Debby mengambil informasi penting tentang diri. Dia menangis dan mengekspresikan ketakutannya, concern, keraguan dan menyalahkan diri sendiri. Kesalahan masa lalu mempengaruhi kesehatannya dan perasaannya. Perasaan tentang diri dan situasinya yang tidak jelas merupakan penyebab stress. Debbie mengalami stress fisik dan interpersonal. Stressor fisik didapat dari penyakit dan tindakan pembedahan. Isi kandung kemih, gangguan dalam fungsi kandung kemih, nyeri dan mual adalah identifikasi masalahnya, dan pengobatan radiasi bisa menjadi masalah lain dari status fisiknya.
Dalam system interpersonal, debby diidentifikasi ada jarak dan sering mengalami kekerasan dengan suami, yg tentunya menjadi kelemahan utama dalam dukungan emosi selama melewati masa-masa yang sulit. Suaminya tidak bekerja ( pengangguran) dan debby tidak memiliki kemampuan untuk bekerja; inilah yang menyebabkan terjadinya masalah keuangan yang menjadi sumber stressor. Suaminya tidak mampu menyediakan dukungan emosional yang baik dan juga materi yang berkontribusi terhadap anak-anak mereka terutama yang akan mengubah tugas dari mereka. Situasi kehidupannya menjadi stressor lain serta Lingkungannya yang tidak kondusif dan bising. Penilaian keperawatan terletak pada situasi dalam keluarga debby dengan perawatan post operatif. Juga kemungkinan bahwa kelemahan seseorang dan kemungkinan keluarga berkontribusi cepat menyebabkan stress. Koping seseorang dan stress interpersonal keduanya dapat mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Debby membutuhkan sumber-sumber untuk menolong dirinya, situasi dan masa depannya.
Komunikasi adalah kunci kestabilan mutu dan kepercayaan antara Ny D dan perawat berarti memvalidasi persepsi, memprioritaskan kestabilan pasien dan bergerak pada proses untuk mencapai tujuan. Ny D mengharapkan partisipasi dalam pencapaian tujuan tersebut. Bagaimanapun Ny D membutuhkan perlindungan lebih dan memerlukan petunjuk dari perawat terutama dalam menyusun tujuan menengah. Perawat dapat menemukan petunjuk untuk membantu pasien dalam mengidentifikasi tujuan berdasarkan asumsi Konseptual system menurut King. Sebagai contoh keseluruhan tujuan keperawatan adalah membantu fungsi dalam tugas mereka (King, 1981). Ungkapan Ny D yang terpenting adalah anak-anaknya. Ini mungkin mengenai tugas seorang ibu. Bagaimanapun Ny D berstatus sebagai pasien. salah satu dasar yang dapat mengubah pemulihan dari penyakit. Asumsi dasar yang lain adalah bahwa perawat membantu pasien untuk mengubah status kesehatan mereka. Keputusan tentang tujuan harus berdasarkan kemampuan, keterbatasan, prioritas psien dan situasi. Dalam situasi ini, tujuan prioritas adalah mengontrol rasa sakit dan rasa mual post operasi walaupun ini membutuhkan validasi dengan Ny D. Tujuan selanjutnya mempersiapkan Ny D untuk pemasangan kateter sementara.
Sangat penting untuk menentukan sejauhmana kekhawatiran dan kecamasan yang dialami Ny. D. Yang bertentangan dengan kemampuannya untuk berperan dalam menentukan tujuan dari keberhasilan pengobatan atau mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam rangka mencapai tujuan. Jika semua masalah ini bertentangan dimensi pertama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan konsultasi psikologis, tindakan penting lainnya mungkin lebih diarahkan pada pengarahan sumber daya yang dimiliki Ny. D khususnya dukungan keluarga meskipun Ny.D mungkin tidak akan menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Ny. D bisa saja menjadi sumber dukungan emosional dan pertolongan / bantuan langsung seperti transportasi dari dan ke RS. Ketika Ny.D harus menjalani pengobatan rawat jalan. Sangat memungkinkan tujuan perawatan dan pasien tidak sejalan berlanjut sampai pada analisa sintesa, validasi pada situasi yang kritis.
Sebagai tambahan, perlu adanya diskusi tentang tujuan bersama, Ny.D mengharapkan untuk dilibatkan dalam diskusi tentang tindakan untuk mencapai tujuan. Melibatkan Ny.D dalam pengambilan keputusan mungkin akan membutuhkan tantangan yang besar karena merasa bahwa tidak berdaya, untuk menjalani penyakitnya, pengobatan, dan kemampuan untuk menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Namun usaha ny. D untuk meningkatkan percaya dirinya, yang pada gilirannya dapat mengurangi stress, meningkatkan mekanisme koping, merubah persepsi, yang semuanya dapat mendorong kearah perubahan status kesehatannya.
Pencapaian tujuan memerlukan evaluasi yang berkelanjutan. Follow up terhadap rasa nyeri, mual, gangguan perkemihan, segera setelah dilakukan tindakan sangat diperlukan. Satu cara untuk dapat melakukan ini mungkin dengan menyusun rencana perawatan dirumah yang akan mendasari tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan . dengan hadirnya seorang tenaga professional dirumah juga dapat memberikan kontribusi untuk melakukan penilaian lebih lanjut terhadap keluarga, validasi dari perkembangan pencapaian tujuan keperawatan dan memodifikasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan keperawatan.
Menurut king, jika kesepakatan telah dibuat, tujuan akan tercapai. Pencapaian tujuan dapat meningkatkan atau memelihara status kesehatan, control penyakit, atau membimbing untuk meninggal dengan tenang. Jika tujuan tidak tercapai, perawat perlu untuk melakukan pengkajian kembali, berfikir kritis, dan perjanjian antara perawat dan klien. Tidak tercapainya tujuan dapat diperoleh dari tidak sempurnanya data focus, persepsi yang salah, kurang pengetahuan , kurangnya interaksi dalam berhubungan, konflik dalam pencapaian tujuan, dan sejumlah penghalang lainnya yang biasa berasal dari perawat, pasien dan sistim penghambat lainnya.

5. Role Play
Tugas Pengatur laku:
Skenario ini menceritakan tentang grand teori : model konseptual Imogene King.
Para pemain dalam skenario ini adalah :
• Pelaku :
o Suami (Tn.R) : Dardin
o Istri (Ny.D) : Eliati Paturungi
o Anak (An.G) : Grace
o Anak (An.J) : Indra Gaffar
o Ns I : Ikram
o Ns G : Gracia
o Narator : Junaidi
Situasi :
Ny.D 29 tahun, suami Tn.D usia 32 thn mempunyai 2 orang anak, Ny. D dengan Diagnosis Ca Servix Stage V yang menjalani pengobatan dan terapi radiasi di unit keperawatan onkologi rumah sakit X. disamping itu situasi keluarga dengan suami yang tidak memiliki pekerjaan dengan perilaku kekerasan dalam RT, social ekonomi rendah serta sanitasi lingkungan yang buruk
Ny. D dalam situasi ini menghadapi stress & memikirkan masa depan dirinya dan anak-anaknya. Saat ini telah menjalani operasi hysterectomy radikal dan harus menjalani perawatan dirumah/rawat jalan. Ny.D menjalani perawatan rumah sebagai akibat post operatif seperti nyeri, ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih sehingga dilakukan kateterisasi secara intermitten

Setting 1 : Di Rumah Ny.D
Tanggal 1 april 2011 jam 07.30, Keadaan rumah berantakan, anak-anak siap berangkat kesekolah, tidak ada sarapan, Tn.R baru pulang dalam keadaan mabuk berat, sementara Ny.D merintih kesakitan
Tn.R : “ Emak, dimanaki…. Mana kopiku…
Ny.D : “ Aduh, aduh … Bapak, sakit sekali perutku
Tn.R : “ Ah… kamu itu tiap hari mengeluh,,,, sakiiiiit terus, bosannnnn
An.G : “ Bapak uangta duluE, mauka kesekolah
An.I : “ Pak saya juga, bukuku belum saya bayar, kalo tidak dibayar tidak boleh masuk kelas lagi “
An.G : “ SPP ku juga pak “
Tn.R : “ Ahhhhhh……tidak ada uang, berhenti saja sekolah
An.G : “ Tidak bisa begitu pak ” (sambil menangis)
Tn.R : “ Pusiiiing….. “(sambil membanting gelas)
Ny.D : “ Bapak……… bapak” janganki begitu pada anak-anak.
Tn.R : “ Apako…. “
Ny.D : “ bapak, antarKa kodong ke Rumah sakit, mauka control “
Tn.R : “ ke rumah sakitmi sendiri……
( Ny.D akhirnya kerumah sakit sendiri)

Situasi II : Rumah Sakit
Pukul 09.00 Ny.D tiba di rumah sakit diruang perawatan onkologi, dan diterima oleh Ns.I dan Ns.G
Ns.G : “ Selamat pagi bu…”
Ny.D : “ Pagi suster,
Ns.G : “ bagaimana perasaannya, silahkan duduk “
Ny.D : “ terima kasih suster, “
Ns.G :” apa yang bisa kami bantu ?”
Ny.D :“ sesuai jadwal control hari ini adalah jadwal control saya dan ada beberapa keluhan yang ingin saya sampaikan”
Ns.G : “ baiklah apa yang ibu keluhkan ?”
Ny.D : “ sakit ki lagi perutku, mual ka juga… ini kateternya sudah 10 hari mi suster”
Ns.G : “ Ibu datang dengan siapa kesini ?”
Ny.D : “ Sendiri Ka suster “
Ns.G : “ Baiklah kalo begitu mari saya periksa “
Ny.D : “ Suster, setelah pemeriksaan sebentar bisa saya cerita sedikit tentang kondisi saya?”
Ns.G :” Baiklah kalo begitu, setelah pemeriksaaan kita akan berbincang diruang perawat ”

(Selanjutnya perawat melakukan pemerisaan fisik, perawatan luka dan kateter serta melaporkan kondisi klien keDokter. Setelah itu perawat mempersilahkan Ny.D keruangannya. Di Ruang konsul perawat ini terjadilah dialog anatara Ny.D dan Ns.I dan Ns.G)
Ns.I : “ nah, sekarang apa yang ingin ibu bicarakan dengan saya “
Ny.D :” iya suster, begini… saya khawatir dan kadang takut dengan kondisi saya saat ini penyakit yang saya alami saat ini rasa-rasanya sebagai bentuk hukuman bagi saya atas perbuatan saya dimasa lalu”
Ns.I :” Oh..ya, ada lagi yang ingin ibu sampaikan kepada kami?”
Ny.D : “saya merasa sangat sendiri, dan tak berdaya menjalani kondisi saya saat ini tanpa dukungan orang-orang disekitar saya. Saat ini saya tinggal dengan suami dan 2 orang anak dirumah orang tua, suami saya pengangguran dan sering marah dan temperamen kepada saya”
Ns I : oh yah… ada lagi yang ingin ibu sampaikan kepada kami??
Ny. D : Selain itu dirumah saya tidak mampu menjalankan peran saya sebagai ibu rumah tangga semaksimal mungkin. Dirumah saya tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah karena keterbatasan kondisi saya saat ini. Saya merasa sangat sedih.
Ns I : Masih ada yang ingin ibu ceritakan??
Ny.D : Sudah tidak ada suster. Apa yang harus saya lakukan suster??
Ns I : Baiklah bu, mendengar cerita ibu tadi saya mengambil kesimpulan bahwa ibu mempunyai masalah yang pertama adalah kondisi fisik ibu akibat penyakit yang ibu alami. Kedua dari kondisi ibu itu membuat ibu tidak dapat menjalankan peran ibu di keluarga dan ketiga komunikasi ibu dengan suami yang kurang baik karena sifat suami ibu yang temperamen yang secara langsung menjadi stressor bagi ibu. Betul seperti itu bu???
Ny. D : Iya suster
Ns.I : Baiklah. Kita akan membicarakan bersama kondisi yang ibu alami saat ini. Pertama-tama kita membuat prioritas dari masalah ibu sendiri. Yang pertama mari kita membicarakan kondisi ibu saat ini. Menurut saya untuk permasalahan kondisi fisik ibu saat ini cukup diselesaikan dengan ibu teratur berobat jalan sesuai dengan jadwal dan ibu memperhatikan hal-hal yang menjadi larangan selama ibu menjalani pengobatan dan perawatan. Nah,. Apakah ibu sudah mengetahui apa saja yang harus ibu lakukan???
Ny. D : Ya, saya sudah tahu suster, tapi bagaimana dengan masalah saya yang lain??
Ns.I : Nah untuk masalah ibu yang kedua, masukan kami adalah ibu bisa melibatkan orang dirumah untuk membantu peran ibu selama ibu sakit, misalnya dengan melibatkan anak-anak, suami atau orang tua dengan memberikan mereka tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan mereka. Nah.. bagaimana pendapat ibu??
Ny. D : Bagaimana melibatkan suami saya, sementara suami saya seorang yang emosional dan temperamen???
Ns. I : Untuk itu, sebaiknya setiap kali berobat, ibu membawa suami ibu agar suami dapat memahami kondisi ibu yang sebenarnya.
Ny. D : iya suster, saya akan mencoba membicarakannya dengan suami saya.
Ns. I : ok ibu, ada lagi yang bisa kami bantu?
Ny. D : Saya rasa sudah cukup suster, terima kasih atas bantuaannya. Permisi Suster, Selamat siang
Ns I : Selamat siang!!!!!

 Carolyn L. Wiener & Marylin J. Dodd : Theory of Illnes Trajectory.
 Georgene Gaskill Eakes, Mary Lermann Burke, & Margareth A.Hainsworth : Theory of Chronic Sorrow.
 Phil Barker : Tidal Model of Mental Health Recovery.
 Katherine Kolcaba : Theory of Comfort.
 Cheryl Tatano Beck : Post partum depression Theory.
 Kristen M. Swanson :Theory of caring
 Cornelia M. Ruland & Shirley M. Moore : Peaceful End of Life Theory.

DAFTAR PUSTAKA

George. (1995). Nursing Theories (The Base for Profesional Nursing Practice), Fourth Edition. USA : Appleton & Lange.
Mariner, A.(1998). Nursing Theorists And Their Works. (4th ed) Philadelphia: Lippincott: Raven Publisher
Pearson A., Vaughan B. (1986). Nursing Model For Practice. Bedford Square London, William Heinemann Medical Books
Tomey and Alligood M.R (2006). Nursing theoriest, utilization and application. Mosby : Elsevier.
Tomey Ann Marriner and Alligood M.R.(2006). Nursing Theorists and Their work. 6 Ed. US

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: